Peluang Cuan Gede! Ini Skill yang Paling Diburu Tahun 2026, Kamu Sudah Bisa Belum?"


 


 

Peluang Cuan Gede! Ini Skill yang Paling Diburu Tahun 2026, Kamu Sudah Bisa Belum?"

Selasa, 09 Juni 2026

GROBOG JATENG, Pekalongan Pesatnya perkembangan media sosial dan industri kreatif membuat keterampilan menyunting video kian diburu masyarakat. Fenomena tingginya peminat promosi digital ini dirasakan langsung oleh Febriana, salah satu peserta Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) 2026 di Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Pekalongan.

Ia tertarik mengikuti pelatihan tersebut, untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan secara lebih profesional. “Saya memilih video editor karena memang sudah ada basic sedikit. Dulu saya pernah meng-handle akun kelas, sehingga sesekali melakukan editing video. Dari situ saya ingin mengembangkan potensi yang saya miliki,” tuturnya, saat ditemui di ruang praktik BLK Kota Pekalongan, baru-baru ini. Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id, Selasa (8/6/2026). 

Febriana mengaku mendapatkan banyak materi baru terkait penggunaan Adobe Premiere. Meski menilai software profesional ini lebih kompleks dan butuh waktu untuk dipelajari, ia optimistis keterampilannya bakal terus berkembang selama pelatihan. “Harapannya setelah lulus saya bisa menjadi freelancer dan content creator, sehingga keterampilan yang didapat dari pelatihan ini benar-benar bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.

Instruktur TIK BLK Kota Pekalongan, Wiwiek Hayyien, mengatakan, pelatihan video editor yang dilaksanakan BLK telah mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), yang ditetapkan Kementerian Ketenagakerjaan. Ia menjelaskan, selama pelatihan peserta akan mempelajari 11 unit kompetensi.

“Nanti di akhir pelatihan peserta akan mengikuti uji kompetensi. Materi yang diberikan menggunakan SKKNI dari Kementerian Ketenagakerjaan, yang terdiri dari 11 unit kompetensi itu,” jelasnya.

Dalam tahap tersebut, peserta akan mengerjakan empat proyek sebagai sarana untuk mengasah kemampuan, sekaligus mengaplikasikan materi yang telah dipelajari selama pelatihan. “Jadi mereka tidak hanya belajar teori, tetapi langsung praktik menghasilkan karya,” tandasnya.


Wiwiek menyebutkan sekitar 70 hingga 80 persen peserta adalah pemula dari kalangan Gen Z yang terbiasa mengedit lewat ponsel. Melalui pelatihan profesional ini, mereka diharapkan mampu menghasilkan karya yang lebih bervariasi, termasuk konten yang mengangkat potensi daerah.

Apalagi, peluang kerja di bidang video editing kini terbuka sangat lebar. Lulusan tidak hanya bisa bekerja di perusahaan atau instansi, tetapi juga berpeluang besar mandiri sebagai freelancer maupun kreator konten.( Hms/Ida).