Warga Grobogan Harus Tahu! Kisah Sendang Tapak Bimo, Warisan Kuno di Desa Plosorejo


 


 

Warga Grobogan Harus Tahu! Kisah Sendang Tapak Bimo, Warisan Kuno di Desa Plosorejo

Kamis, 25 Juni 2026

GROBOG JATENG, Grobogan Kabupaten Grobogan tidak hanya dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Tengah, tetapi juga menyimpan sejuta kisah kuno yang terpatri erat pada bentang alamnya. 

Salah satu warisan cerita rakyat yang paling memikat adalah misteri Sendang Tapak Bimo. Mata air keramat ini terletak di wilayah Dusun Ngrimpi, Desa Plosorejo, Kecamatan Tawangharjo, Jawa Tengah. 

Bagi masyarakat setempat, tempat ini bukan sekadar kubangan air penopang kehidupan, melainkan bukti nyata dari jejak kekuatan sang kesatria pewayangan, Bimo atau Werkudara. Kisah ini berakar dari lakon pewayangan tentang Bimo atau Werkudara. 

Kepala Dusun (Kadus) Ngrimpi, Ali Suratmin, mengisahkan bahwa saat itu Bimo (Werkudara) mendapat wejangan dari sang guru untuk menyambung barisan gunung ke arah utara hingga mencapai Gunung Kendeng di wilayah Sukolilo. Jalur penyambungan ini direncanakan melintasi beberapa daerah, di antaranya Plosorejo, Jatipohon, hingga Sukolilo.

Namun, ada syarat berat yang harus dipenuhi, tugas ini wajib diselesaikan dalam waktu satu malam dan tidak boleh diketahui oleh satu orang pun. 

"Orang dulu cerita pewayangan itu, Bimo  (Werkudara) diwejang gurunya suruh menyambung gunung ke utara sampai Gunung Kendeng Sukolilo. Tapi harus dalam semalam dan tidak diketahui satu orang pun," ujar Ali Suratmin. Kamis (25/6/2026)

Sayangnya, misi tersebut gagal di tengah jalan. Ketika pembangunan baru berjalan sekitar 500 meter, fajar mulai menyingsing yang ditandai dengan riuhnya suara lesung dari aktivitas menumbuk padi oleh warga.

Akibat kegagalan tersebut, anggota Pandawa Lima yang bertubuh raksasa itu langsung melompat dari wilayah Plosorejo ke arah utara. Di tengah pelariannya di dalam hutan, Bimo dirundung rasa haus yang teramat sangat. Dalam kondisi tersebut, ia bertumpu dengan satu tapak kakinya di tanah, sementara tangannya menancap kuat ke sisi sebelah timur untuk mencari kekuatan.

Ajaibnya, dari lubang bekas tancapan jemari Bimo (Werkudara), memancarlah air yang sangat jernih dan melimpah. Air tersebut langsung digunakan sang kesatria untuk melepas dahaga. Mata air yang terbentuk dari kepalan dan kekuatan magis Tempat itulah yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai Sendang Tapak Bimo.
 

Hingga kini, Sendang Tapak Bimo telah menjelma menjadi situs spiritual sekaligus sumber air yang sangat dihormati.
Air di dalam sendang ini konon tidak pernah kering sepenuhnya, bahkan ketika musim kemarau panjang.
Sebelum modernisasi air bersih masuk ke desa, sendang ini adalah urat nadi utama bagi masyarakat sekitar.

"Sebelum tahun 2000-an, warga satu kampung semuanya mengambil air (untuk kebutuhan sehari-hari) di situ. Kalau pas bulan suro banyak yang datang berkunjung wisata religi. Tempatnya saya tata, sementara dari dana saya pribadi dan minta tambahan dari desa,” bebernya. 

Lokasi tersebut berada di Kawasan perhutani dan berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman warga. (GJ/Red).