GROBOG JATENG, Grobogan – Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan wadah ramah lingkungan berbahan anyaman bambu tradisional khas Jawa, seperti dunak dan besek, mengalami lonjakan drastis. Produk lokal ini kini menjadi pilihan utama masyarakat sebagai wadah pembagian daging kurban untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai.
Selain mendukung kampanye pengurangan sampah plastik, penggunaan besek dan bakul bambu dinilai lebih unggul dalam menjaga kualitas daging. Lapisan anyaman yang memiliki celah kecil mampu menjaga sirkulasi udara dengan baik.
Alhasil, daging kurban di dalamnya tidak mudah lembap dan tidak cepat menimbulkan bau tidak sedap.Tak hanya fungsional, kemasan alami ini juga memberikan kesan tradisional yang estetik dan bernilai seni tinggi.
Geliat berkah Idul Adha salah satunya dirasakan oleh para pengrajin di Kabupaten Grobogan. Meski usianya tak lagi muda, semangat dan keterampilan mereka dalam menganyam bambu tidak kalah dengan generasi muda.
Dari bilah-bilah bambu mentah, tangan-tangan terampil para lansia ini terus produktif menenun anyaman demi menghidupi keluarga. Kualitas produk yang rapi dan kuat membuat bakul buatan warga Grobogan ini tetap diburu oleh banyak pelanggan.
Karsiyem, salah satu pengrajin keranjang anyaman bambu setempat, mengaku kewalahan menerima pesanan yang datang menjelang hari raya kurban tahun ini.
Semetara standar jual 20 ribuan,
“Buat dunak tempat beras dan daging banyak yang pesan, alhamdulikkah. Jualan di pasar sehari 50 habis. Banyak wilayah sekitar. Semoga semakin laku laris,” ujarnya, kemarin.
Meningkatnya minat masyarakat terhadap bakul bambu juga dipicu oleh faktor ekonomi. Saat ini, harga keranjang atau wadah berbahan plastik di pasaran relatif mahal. Sebaliknya, bakul dan besek anyaman bambu justru menawarkan harga yang sangat murah meriah dengan ketahanan yang mumpuni.
Hal ini diakui oleh Sri Martoyo, cucu dari Karsiyem salah satu pengrajin kerajinan dari bambu ini selain karena murah meriah, juga biar daging kurbannya aman gak bau plastic. Meski ia dijual ke dengan harga kisaran 20 ribu rupiah per pcs.
“Bisa buat tempat beras pas idul adha buat tempat daging, semantara mencukupi, banyak yang pesan, semoga kerajinan ini harganya lebih baik, kita jual ke pengepul hanya 15 ribu untung tapi belum maksimal,” ujarnya.
Kegunaan utama bakul anyaman bambu adalah sebagai tempat penyimpanan yang kokoh dan tahan lama. Sejak zaman dahulu, masyarakat telah menggunakan produk tradisional ini sebagai warisan budaya yang praktis untuk kehidupan sehari-hari.
Keunggulan utama dari struktur anyaman bambu adalah kemampuannya memberikan ruang bagi udara untuk terus mengalir. Hal ini menjaga barang atau daging yang disimpan di dalamnya tetap aman, mudah diakses, serta bebas dari kelembapan tinggi yang bisa memicu pembusukan bakteri.
Melalui momentum Idul Adha, produk anyaman bambu lokal Grobogan ini membuktikan bahwa tradisi lama tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga menjadi solusi modern yang ekologis dan ekonomis.(GJ/Red).

.jpg)