Menteri Yandri Bongkar Potensi Dana Desa: Tanam Melon Bisa Raup Jutaan Sekali Panen


 


 

Menteri Yandri Bongkar Potensi Dana Desa: Tanam Melon Bisa Raup Jutaan Sekali Panen

Senin, 25 Mei 2026

GROBOG JATENG, Kabupaten Semarang – Pengelolaan dana desa untuk program ketahanan pangan diminta benar-benar memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Berbagai komoditas pertanian dan peternakan didorong untuk dikembangkan menjadi usaha ekonomi produktif yang melibatkan warga setempat.

Penegasan itu disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) RI Yandri Susanto usai menghadiri panen buah melon milik Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Tuntang Sejahtera di Desa/Kecamatan Tuntang, Minggu (24/5/2026). Menurutnya, alokasi 20 persen dana desa untuk penguatan ketahanan pangan harus menjadi instrumen ekonomi yang mampu memberikan keuntungan bagi masyarakat desa.

“Budidaya melon di Tuntang ini menjadi contoh bagus dan bisa direplikasi di desa-desa lain,” ujarnya. Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id.

Menurutnya, usaha ekonomi berbasis potensi unggulan desa seperti ini akan terus didorong pengembangannya. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui komoditas khas di masing-masing daerah. Bahkan, Kemendes PDT juga telah menyiapkan peluang pasar ekspor bagi produk unggulan desa agar memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

“Sebanyak 59 negara telah siap membeli aneka komoditas seperti jahe, serai, pisang, dan kentang. Kita siapkan program Desa Tematik menuju Desa Ekspor,” tuturnya.

Pengelola Green House melon Bumdes Tuntang Sejahtera, Mas Akin Andriastomo, mengatakan pembangunan green house berukuran 10×30 meter menelan modal awal sekitar Rp160 juta. Dua jenis melon yang dibudidayakan, yakni Sweet Lavender dan Sweet Hami, telah dipanen dua kali sejak awal tahun dengan hasil sekitar 1 ton melon berkadar kemanisan 15 brix, di atas standar normal 12 brix, sehingga diminati pasar lokal.

Keuntungan sekali panen sekitar Rp17 juta dari pendapatan kotor Rp25 juta, dikurangi biaya operasional Rp7-8 juta,” terangnya.
Bupati Semarang, melalui Kepala Dispermasdes Budi Rahardjo menyampaikan, ada 208 Bumdes yang mengelola usaha ketahanan pangan. Di antaranya, peternakan kambing, sapi, domba dan ayam. Selain itu, juga ada usaha budidaya kentang, kedelai, sayuran, dan singkong. (Hms/Ida).