Hadapi Kemarau, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Bersih


 


 

Hadapi Kemarau, Jateng Siapkan 123 Juta Liter Air Bersih

Selasa, 05 Mei 2026


GROBOG JATENG, Semarang Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mulai melakukan berbagai persiapan menghadapi musim kemarau 2026. Salah satunya dengan menyiapkan sekitar 123 juta liter air bersih, hasil sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, guna mengantisipasi potensi kekeringan.

Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan secara menyeluruh terhadap wilayah-wilayah yang rawan terdampak kekeringan.

“Tahun 2026 ini hasil koordinasi kami dengan BPBD kabupaten/ kota, sudah disiapkan 123 juta liter air. Ada 18 kabupaten/ kota yang diperkirakan akan terdampak. Sudah siap untuk didistribusikan,” katanya, saat rapat koordinasi Pengendalian Operasional Kegiatan (POK) Triwulan I 2026, di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (4/5/2026). Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id

Bergas menjelaskan, saat ini memang masih terjadi hujan di wilayah Jawa Tengah. Berdasarkan perkiraan, khusus Pulau Jawa akan memasuki musim kemarau pada Juni. “Peristiwa di tahun 2026 ini diperkirakan hampir sama seperti di tahun 2024. Di mana pada tahun 2024, BPBD provinsi maupun kabupaten/ kota sudah bisa mendistribusikan 54 juta liter air,” jelasnya.

Terkait penyaluran air bersih, Bergas menambahkan, pemetaan juga telah mencakup kesiapan sarana dan alat distribusi. Saat ini, pihaknya masih melakukan kajian serta perhitungan biaya distribusi, seiring adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi.

Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa kesiapan menghadapi musim kemarau telah dikoordinasikan dengan pemerintah kabupaten/kota, termasuk dalam pemetaan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan di Jawa Tengah.

Ia juga menegaskan, koordinasi akan diperluas dengan sejumlah BUMD, agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih optimal dan dampak kekeringan bisa diminimalkan. “Nanti kita koordinasikan lagi, termasuk dengan beberapa BUMD juga kita kondisikan. Ini untuk membantu agar dampak kekeringan bisa dikurangi. Tidak hanya soal kebutuhan air bersih dan air baku, tetapi juga dampaknya pada swasembada pangan,” ujarnya. (Hms/Ida).