Harga Gabah Lampaui APP, Panen Padi MT I Awal 2026 di Rembang Capai 5,8 Ton per Hektare


 


 

Harga Gabah Lampaui APP, Panen Padi MT I Awal 2026 di Rembang Capai 5,8 Ton per Hektare

Kamis, 29 Januari 2026


GROBOG JATENG, Rembang Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat hasil menggembirakan pada panen padi awal 2026 atau Musim Tanam I (MT1), dengan produktivitas yang terjaga baik serta harga gabah di tingkat petani melampaui Angka Pembelian Pemerintah (APP), sehingga turut meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, menjelaskan bahwa panen perdana Musim Tanam I dilakukan melalui kegiatan ubinan yang melibatkan penyuluh pertanian, petugas lapangan, serta Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai acuan dalam menghitung tingkat produktivitas padi.

“Berdasarkan hasil panen awal, produktivitas padi mencapai sekitar 5,8 ton per hektare. Ini menunjukkan kondisi pertanaman cukup baik,” ujar Agus, saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026). Dilansir dari website resmi jatengrov.go.id.

Dari sisi harga, gabah kering panen di tingkat petani tercatat mencapai Rp7.100 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan Angka Pembelian Pemerintah (APP) sebesar Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, harga gabah kering giling diperkirakan berada di atasnya, seiring mutu gabah hasil panen yang dinilai cukup baik.

Agus menambahkan, kualitas gabah hasil panen MT1 tahun ini cukup optimal. Selama masa tanam hingga panen, tidak ditemukan serangan hama dan penyakit yang berarti, serta proses pengisian bulir berlangsung maksimal. “Kondisi tanaman relatif sehat, pengisian bulir bagus, sehingga kualitas gabah yang dihasilkan juga baik,” jelasnya.

Meski hasil panen cukup menggembirakan, Agus mengungkapkan masih terdapat tantangan pada tahap pascapanen, terutama dalam proses pengeringan gabah di tengah kondisi musim hujan. Minimnya sinar matahari menyebabkan metode pengeringan konvensional belum berjalan optimal, sehingga turut memengaruhi kelancaran aktivitas penggilingan.

“Pengeringan gabah masih menjadi perhatian. Karena itu, muncul usulan agar ke depan pemerintah dapat memfasilitasi pengadaan mesin pengering gabah, untuk mendukung petani dan penggilingan padi,” ungkap Agus.

Saat ini, imbuhnya, fasilitas mesin pengering gabah di Kabupaten Rembang masih terbatas dan baru tersedia di beberapa wilayah, seperti Karangsari dan sejumlah titik lainnya. Sebagian besar petani masih mengandalkan pengeringan secara alami.
 
Terkait sebaran wilayah, Agus menyebutkan, panen awal MT1 belum terpusat di satu kecamatan tertentu. Panen diperkirakan akan segera meluas dan merata ke berbagai kecamatan di Kabupaten Rembang, dalam waktu dekat. “Ini masih panen awal dan dalam waktu dekat akan menyebar ke kecamatan-kecamatan lainnya,” pungkasnya. (Hms/Ida).