Menelusuri Jejak Islam Abad ke-17 di Masjid Kuno Peninggalan Ki Ageng di Menduran Grobogan


 


 

Menelusuri Jejak Islam Abad ke-17 di Masjid Kuno Peninggalan Ki Ageng di Menduran Grobogan

Senin, 23 Februari 2026


GROBOG JATENG, Grobogan Di tepian aliran Sungai Lusi, tepatnya di Desa Menduran, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di tanah Jawa sejak abad ke-17. 

Masjid Baiturrahman, sebuah tempat ibadah bersejarah peninggalan ulama kesohor asal Madura, Ki Ageng Kafiluddin, menyimpan sejuta cerita unik dan karamah yang masih diyakini masyarakat hingga kini.

Diriwayatkan berdiri sekitar tahun 1700 Masehi, masjid ini memiliki letak yang cukup ekstrem, yakni tepat di bibir Sungai Lusi. Meski sungai besar tersebut kerap meluap saat intensitas hujan tinggi, Masjid Baiturrahman tercatat tidak pernah sekalipun tersentuh banjir. Hal ini menjadi salah satu keunikan sekaligus bukti sejarah yang masih berdiri tegak hingga sekarang.
 
Untuk mencapai masjid bersejarah ini dari pusat perkotaan Purwodadi, pengunjung dapat mengambil rute tercepat dengan melintasi jembatan gantung kecil yang membelah Sungai Lusi. Hanya dibutuhkan waktu sekitar lima menit perjalanan darat, dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak yang asri untuk sampai ke lokasi.
 
Meski telah berusia ratusan tahun, tampilan Masjid Baiturrahman saat ini sekilas tampak seperti bangunan masjid sederhana pada umumnya. Hal ini dikarenakan beberapa kali upaya pemugaran yang dilakukan untuk menjaga ketahanan bangunan.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Marom sekaligus keturunan kedelapan Ki Ageng Kafiluddin, Gus Lizamuddin Kafi, menjelaskan bahwa desain awal masjid ini sebenarnya dirancang menyerupai Masjid Menara Kudus. Namun, konstruksi kayu yang lama kini telah dipoles dan dibungkus sedemikian rupa guna mempertahankan sisi orisinalitas di bagian dalamnya.
   
Ki Ageng Kafiluddin, atau yang memiliki nama kecil Jamal, bukanlah sosok sembarangan. Beliau merupakan putra dari Adipati pertama Madura. Menurut penuturan Gus Lizam, Ki Ageng Kafiluddin dikenal sebagai salah satu Wali Mastur—sosok wali yang menyembunyikan status kewaliannya dari khalayak umum.

Perjalanannya hingga sampai di Grobogan bermula saat beliau mencari adiknya yang hilang. Pencarian tersebut membawanya hingga ke wilayah Pati dalam kondisi kehabisan perbekalan. Di sana, beliau mengikuti sebuah sayembara dan berhasil memenangkannya. Setelah itu, beliau menetap dan mendirikan sebuah pemukiman yang kini dikenal sebagai Desa Menduran, serta membangun Masjid Baiturrahman sebagai pusat dakwahnya.

 “Harapannya kitab bisa melestarikannya saja kalau kita ceriatakan ini panjang, kalau menurut versi cerita para kyai, termasuk wali mastur yang tidak mau diketahui kewaliannya,” ujar Gus Lizamuddin Kafi, kepada media kemarin.

Kini, Masjid Baiturrahman tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi warga sekitar, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi bagi mereka yang ingin menapak tilas perjuangan dakwah Ki Ageng Kafiluddin di sekitar abad ke-17. Oleh karena itu peninggalan sejarah ini butuh perhatian pihak terkait, supaya tetap terjaga kelestariannya.

“Jadi ini termasuk kuno jarang orang yang tahu, kita hanya melestarikan peninggalan sesuai kemampuan kita, Alhamdulillah barakallah,” harapnya. (AN/Red).