Peringati 300 Tahun Grobogan, Pemkab Gelar Ziarah Leluhur


 


 

Peringati 300 Tahun Grobogan, Pemkab Gelar Ziarah Leluhur

Jumat, 13 Februari 2026

GROBOG JATENG, Grobogan Menjelang Hari Jadi ke-300 Kabupaten Grobogan, Pemkab Grobogan mengawali rangkaian kegiatan dengan ziarah ke makam para leluhur sebagai upaya meneguhkan ingatan sejarah dan menyatukan langkah pembangunan dalam semangat “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kutho”.

Setyo Hadi bersama Forkopimda dan jajaran perangkat daerah melaksanakan ziarah ke Makam Ki Ageng Tarub dan Ki Ageng Selo di Kecamatan Tawangharjo, Kamis (12/2/2026). Sementara itu, H. Sugeng Prasetyo bersama rombongan berziarah ke Makam Ki Ageng Getas Pendowo di Kuripan, Purwodadi, serta makam Bupati pertama Grobogan, Adipati Puger Martopuro, pada hari yang sama.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan sembako kepada masyarakat sekitar sebagai wujud kepedulian sosial yang menyertai peringatan tiga abad Grobogan.

Bupati Setyo Hadi menyampaikan bahwa ziarah ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk penghormatan atas jasa para leluhur yang telah meletakkan fondasi berdirinya Grobogan. “Kita mengenang dan menghormati jasa para pendahulu. Hasil perjuangan itu kita rasakan sampai hari ini,” ujarnya.

Menurut Setyo Hadi, pembangunan yang berlangsung saat ini merupakan mata rantai dari ikhtiar panjang para pendahulu. Oleh karena itu, nilai kebersamaan dan pengabdian harus terus dijaga agar setiap langkah pembangunan tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat. Ia pun mengajak seluruh warga memberikan dukungan agar dirinya bersama Wakil Bupati dapat mengemban amanah dengan baik, lancar, dan penuh tanggung jawab.

Hal senada disampaikan Wakil Bupati H. Sugeng Prasetyo yang menilai ziarah sebagai wujud dharma bhakti generasi penerus kepada para leluhur. Menghormati jasa pendahulu, menurutnya, tidak sebatas mengenang nama dan sejarah, melainkan juga meneruskan nilai-nilai pengabdian dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai tanggung jawab bersama. Berbagai peristiwa sosial yang memprihatinkan di daerah lain, tegasnya, tidak boleh terjadi di Grobogan. Untuk itu, pemerintah daerah hingga pemerintah desa diminta lebih peka terhadap kondisi warganya, sementara masyarakat diajak saling peduli dan tidak membiarkan persoalan berkembang tanpa perhatian.

“Jangan sampai ada warga yang merasa sendirian menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak semata berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kehadiran negara dalam memastikan seluruh warga, terutama anak-anak dan keluarga rentan, memperoleh perhatian dan perlindungan sosial.

Melalui rangkaian ziarah tersebut, Pemerintah Kabupaten Grobogan berharap peringatan tiga abad daerah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan semangat gotong royong. Dengan mengusung semangat “Nyawiji Mbangun Deso Noto Kutho”, pembangunan desa dan penataan kota diharapkan berjalan selaras, berlandaskan nilai sejarah, serta berpihak pada kepentingan Masyarakat Grobogan. (Ida/AN/Red).