GROBOG JATENG, Temanggung – Program desa mandiri dalam pengelolaan sampah yang digagas Pemerintah Kabupaten Temanggung mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Salah satu contohnya terlihat di Desa Gununggempol, Kecamatan Jumo, yang dinilai sukses membangun sistem pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga, sekaligus menjaga kelestarian sungai dan perlindungan satwa di lingkungan sekitar.
Staf Ahli Hubungan Antar Lembaga Pusat dan Daerah KLH, Hanifah Dwi Nirwana mengatakan, kunjungannya ke Temanggung merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol dengan Bupati Temanggung Agus Setyawan di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, bupati menyampaikan bahwa Temanggung telah lebih dulu menginisiasi gerakan memilah sampah dari rumah tangga, yang kini berkembang menjadi perhatian di tingkat nasional.
“Sejak pertemuan itu, pokoknya suatu saat saya harus ke sana. Alhamdulillah, hari ini saya bisa datang ke Desa Ketitang dan Gununggempol yang luar biasa ini. Karena setiap kali mendampingi Pak Menteri bertemu dengan para kepala daerah, saya selalu meng-endorse soal kegiatan pilah sampah dari rumah, yang sekarang lagi booming jadi gerakan nasional,” ungkapnya, saat audiensi dengan Bupati Temanggung, di Pendopo Desa Gununggempol, belum lama ini.
Menurut Hanifah Dwi Nirwana, kunjungan tim KLH ke Temanggung bertujuan mempelajari lebih dalam cara membangun “nawaitu” atau niat bersama masyarakat dalam menjaga lingkungan. KLH ingin mengetahui bagaimana proses menumbuhkan kesadaran, semangat gotong royong, partisipasi aktif, hingga rasa tanggung jawab warga dalam pengelolaan sampah.
Ia menjelaskan, saat ini KLH tengah melakukan pendampingan terhadap 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang mencakup puluhan ribu desa. Kehadiran desa-desa seperti Gununggempol diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus solusi nyata dalam mengatasi persoalan sampah di tingkat nasional.
“Kami harapkan, ada lebih banyak desa yang mereplikasi gerakan seperti ini sesuai dengan potensinya masing-masing, maka persoalan sampah di tingkat nasional tentu akan selesai. Karena yang paling penting itu soal endurance alias ketahanan, untuk terus menerus tanpa lelah mengajak masyarakat mengelola sampah secara progresif,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Agus Setyawan menjelaskan, pemerintah daerah terus berupaya mentransformasi sistem pengelolaan sampah dari hulu. Hingga saat ini, Temanggung telah memiliki 136 Desa Mandiri Sampah, yang didukung oleh 51 unit TPS 3R dan 121 Bank Sampah.
“Insyaallah, kita akan bersama-sama menjalankan penanganan sampah ini, walaupun masih ada permasalahan, khususnya di tingkat hilir (Tempat Pembuangan Sampah Akhir di Sanggrahan),” pungkasnya. (Hms/Ida).

.jpg)