GROBOG JATENG, Grobogan – Memasuki musim panen padi, aktivitas transaksi jual beli gabah di wilayah Kelurahan Grobogan mulai menggeliat secara merata. Kehadiran para penebas padi dan pembeli besar di kawasan persawahan memicu gejolak harga beli yang cukup bervariasi, tergantung pada varietas serta kualitas bulir padi yang dipanen oleh petani.
Berdasarkan pantauan di salah satu kawasan persawahan Kelurahan Grobogan pada Sabtu (20/06/2026) sore, harga komoditas gabah di tingkat petani sangat ditentukan oleh mutu fisik pasca-panen. Perbedaan karakteristik tanaman di lapangan memicu adanya selisih harga beli per kilogramnya dari para tengkulak.
Darsono, seorang penebas padi asal Karangsari, mengungkapkan bahwa saat ini dirinya mematok harga beli gabah di kisaran Rp7.200 hingga Rp7.500 per kilogram. Menurutnya, varietas padi seperti Inpari 32 menjadi salah satu yang paling diburu karena memiliki karakteristik bulir yang ideal dan dihargai tinggi.
"Varietas 32 ini Rp7.500 per kilo, Mbak. Yang lain ada yang Rp7.200 seperti varietas MR. Bedanya kalau yang MR itu barangnya agak kurang bagus, bulirnya lembut dan kecil-kecil. Kalau varietas 32 ini ukurannya sedengan (sedang) dan pas," ujar Darsono saat memantau kondisi hasil panen di sawah Kelurahan Grobogan.
Sebagai pembeli yang bergerak di beberapa wilayah, Darsono menambahkan bahwa standar penurunan harga pada varietas tertentu terpaksa dilakukan karena faktor kondisi fisik tanaman menjelang dipotong. Kerusakan lahan akibat cuaca membuat kualitas beras yang dihasilkan nantinya ikut menurun.
"Yang varietas MR ini harganya malah turun jadi Rp7.200. Daerah sana-sana juga sama saja kondisi padinya, sudah banyak yang patah," imbuh Darsono, menjelaskan dinamika harga yang merosot dibanding pekan sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp7.700.
Meskipun ada perbedaan harga beli berdasarkan varietas, Darsono melihat fenomena panen bulan ini terjadi secara serempak dan merata di berbagai titik, mulai dari wilayah Teguhan kecamatan Grobogan hingga wilayah Godong . Menumpuknya pasokan gabah di musim panen serentak ini ditengarai menjadi salah satu pemicu bergesernya harga beli di tingkat tebasan. (Ida/Red).

.jpg)