Sekda Sebut Jalur Grobogan Makin Strategis, Tetapi Berpotensi Gampang Rusak. Kenapa Begitu?


 


 

Sekda Sebut Jalur Grobogan Makin Strategis, Tetapi Berpotensi Gampang Rusak. Kenapa Begitu?

Kamis, 11 Juni 2026

GROBOG JATENG, Grobogan — Sekda Grobogan Anang Armunanto menyampaikan bahwa posisi strategis Kabupaten Grobogan sebagai jalur perlintasan utama berdampak pada kerusakan jalan akibat kendaraan overload dan meningkatnya ancaman peredaran narkotika. Hal ini ia sampaikan dalam Rakor P4GN se-Eks Karesidenan Semarang di Pendopo Kabupaten Grobogan, Kamis (11/6/2026).

Dalam penyampaiannya, Anang menjelaskan bahwa akses menuju Grobogan kini jauh lebih terbuka berkat adanya titik keluar tol (exit tol) di wilayah sekitar. Kondisi ini mengubah persepsi masyarakat luar daerah yang dulunya menganggap Grobogan sebagai wilayah yang jauh dan sulit dijangkau.


"Demak sekarang exit-nya, terus kemudian kalau di selatan sana di Sragen. Mungkin dalam benak orang yang belum, belum pernah datang ke sini, tahunan yang lalu  kira-kira bisa ditempuh butuh 1, sampai 1 setengah jam untuk sampai. Sekarang, bisa 2 jam saja sudah alhamdulillah lancar gitu, bisa rata-rata lebih dari 2 jam," ujar Anang.


Perubahan waktu tempuh dan kepadatan lalu lintas ini terjadi karena Grobogan kini menjelma sebagai perlintasan utama di jalur tengah yang menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa. "Karena sebagai jalur alternatif pilihan di jalur tengah, antara Jakarta, Semarang, Surabaya. Di antara Pantura dan juga trans... tol selatan. Dan menjadi pilihan strategis rupanya. Mungkin dari jarak tempuhnya lebih dekat, maka segalanya akan lebih efisien," lanjutnya.


Namun, efisiensi rute ini memicu lonjakan volume kendaraan berat yang melintasi Grobogan. Menurut Anang, jalanan di wilayahnya kini didominasi oleh angkutan logistik bertonase besar yang kerap kali melebihi kapasitas muatan.

"Maka semua yang lewat itu rata-rata sekarang angkutan orang maupun barang yang overload over dimensi. Sehingga ketika mau nyalip aja sudah uget-ugetan (kesulitan) gitu. Tronton, kemudian kendaraan-kendaraan semi-tiga, gandeng, bahkan sebagainya semuanya lewat sini," ungkapnya di hadapan para peserta rapat koordinasi.


Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten Grobogan tetap melihat fenomena ini dari sudut pandang yang positif bagi perkembangan daerah, meski ada konsekuensi pada daya tahan infrastruktur jalan yang harus ditanggung. "Tapi setidaknya pasti ada dampak positifnya karena Grobogan semakin ramai dan semakin dikenal. Meskipun jalannya, ya potensinya semakin gampang rusak," tambah Anang.


Lebih lanjut, Sekda Grobogan juga menekankan bahwa keramaian dan terbukanya akses transportasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari sisi keamanan dan ketertiban masyarakat. Jalur perlintasan yang aktif dinilai rawan dimanfaatkan oleh jaringan pengedar obat-obatan terlarang.

"Dengan geografis yang strategis ini menjadikan kami tentunya tidak luput dari ancaman peredaran gelap narkotika. Maka Pemerintah Kabupaten Grobogan berkomitmen untuk senantiasa bersinergi dan berkolaborasi dengan BNN Provinsi Jawa Tengah, juga aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan dalam upaya pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika,” pungkasnya. (Ida/AN/Red).