Lahan Hutan Disulap Jadi Ladang Tebu, Perhutani Purwodadi Dukung Swasembada Gula Nasional


 


 

Lahan Hutan Disulap Jadi Ladang Tebu, Perhutani Purwodadi Dukung Swasembada Gula Nasional

Sabtu, 27 Juni 2026

GROBOG JATENG, Grobogan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi resmi memulai kegiatan panen Agroforestry Tebu Mandiri (ATM) tahun 2026. Prosesi panen raya ini berlangsung di Petak 62F1, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pekuwon, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung. 

Langkah ini menjadi bentuk sinergi strategis antara Perhutani KPH Purwodadi dengan Pabrik Gula (PG) Madukismo dalam mendukung program swasembada gula nasional yang dicanangkan pemerintah.

Administratur KPH Purwodadi, Untoro Tri Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan panen Agroforestry Tebu Mandiri merupakan wujud nyata kontribusi Perhutani. 


Pihaknya berkomitmen penuh mendukung program strategis pemerintah, khususnya di bidang ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan gula dalam negeri agar tidak bergantung pada impor.

"Ini memang mendukung program pemerintah dalam rangka swasembada gula nasional," katanya kemarin.


Pada tahun 2026 ini, areal Agroforestry Tebu Mandiri di Petak 62F1 RPH Pekuwon memiliki luas mencapai 5,5 hektare. Perhutani menargetkan rencana produksi dari lahan tersebut mampu mencapai angka 353,430 ton tebu. 


Menurutnya, program ini menjadi bukti konkret optimalisasi pemanfaatan kawasan hutan melalui pola agroforestry yang tepat sasaran. Melalui skema agroforestry, pengelolaan lahan tetap mengutamakan prinsip kelestarian hutan jangka panjang. 

Di sisi lain, ruang di antara tanaman hutan dimanfaatkan secara produktif untuk tanaman semusim seperti tebu. Pola ini terbukti memberikan multiplier effect berupa manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

"Harapannya kami dapat manfaat dari hutan, masyarakat juga dapat manfaat dari proses tebunya, dan bisa mendukung swasembada gula di Republik Indonesia," harapnya.

Keberhasilan program ini juga mendapat apresiasi langsung dari berbagai pihak yang terlibat di lapangan. Dwi Prakosa, seorang petani tebu setempat, menyatakan bahwa program ini sangat membantu perekonomian warga sekitar hutan. 

Senada dengan hal tersebut, Yoyok selaku karyawan pabrik gula, menegaskan bahwa pasokan tebu dari Perhutani ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas produksi gula di pabrik.  (*).