Tinggal 9 Orang Bertahan, Jeritan Hati Perajin Bata Merah Grobogan: 'Kalau Enggak Bikin, Makan Apa?'


 


 

Tinggal 9 Orang Bertahan, Jeritan Hati Perajin Bata Merah Grobogan: 'Kalau Enggak Bikin, Makan Apa?'

Jumat, 26 Juni 2026

GROBOG JATENG, Grobogan Keberadaan sentra pembuatan batu bata merah tradisional di Kelurahan Grobogan, Kecamatan/Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, tepatnya di kawasan belakang SMP Negeri 1 Grobogan, kini kian meredup. Seiring meningkatnya penggunaan bata ringan atau hebel dalam dunia konstruksi, jumlah warga yang bertahan melakoni profesi sebagai perajin batu bata merah terus menyusut tajam.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Jumat (26/6/2026), aktivitas pembakaran dan pencetakan tanah liat tidak lagi seramai dulu. Salah seorang perajin senior setempat, Warti, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah perajin ini terjadi akibat sepinya permintaan pasar yang beralih ke material modern.

"Yang bikin bata kemarin-kemarin itu ada 18 atau 16 orang, sekarang tinggal 9 orang kelihatannya, Mas. Alasannya karena terpengaruh itu, herbel (hebel)," ungkap Bu Warti saat ditemui di sela-sela aktivitasnya bekerja.

Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih hebel karena alasan efisiensi biaya dan kecepatan waktu pembangunan. Menggunakan hebel dinilai jauh lebih praktis dan hemat anggaran bagi warga yang ingin mendirikan rumah.

"Kan herbel itu murah harganya, bikinnya rumah cepat, dananya cukup sedikit bisa. Kalau bata ini mahal," tambahnya.

Meski demikian, dari segi kualitas, Warti menjamin bahwa batu bata merah konvensional memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh bata ringan, salah satunya adalah daya tahan bangunan yang jauh lebih kokoh tanpa harus selalu dilapisi semen tebal (lepo).

"Kelebihannya ya lebih kuat. Nggak dilepo (dihaluskan pakai pasir/semen) pun nggak apa-apa. Kalau herbel itu harus dilepo, Mas. Kalau nggak dilepo itu renggang," jelas perempuan yang mengaku sudah menggeluti usaha ini selama 15 tahun bersama suaminya.

Walaupun jumlah pelanggan kini kian menipis dan jarang, Warti dan sisa perajin lainnya memilih untuk pantang menyerah. Mereka tetap bertahan memproduksi batu bata merah demi menyambung hidup sehari-hari.
"Kan terang, bikin terus selamanya. Kan untuk makan nanti apa, Mas, kalau nggak bikin bata?" pungkasnya dengan senyum tegar. 

Nari yang juga merupakan salah satu perajin di sentra tersebut turut membeberkan tantangan berat dari segi nilai jual yang mereka hadapi saat ini. Ia menyebutkan bahwa harga batu bata merah di tingkat perajin kini hanya berada di angka Rp320.000 per seribu biji untuk penjualan ke tangan pertama.

"Untuk harganya, per seribu bata merah itu Rp320.000, itu kita jual langsung ke tangan pertama. Harga segitu tentu harus bersaing ketat dengan herbel yang sekarang lebih banyak dipilih orang karena pengerjaannya yang dinilai lebih cepat dan hemat," tuturnya.

Para perajin sangat berharap agar masyarakat dan pelaku proyek pembangunan tetap melirik serta menggunakan batu bata merah lokal demi menjaga kelangsungan ekonomi mereka. Mereka berharap sentra tradisional di Kelurahan Grobogan ini tidak punah digilas zaman dan tetap bisa menjadi sumber penghidupan utama untuk menyambung hidup. (Ida/AN/Red).