GROBOG JATENG, Grobogan — Memiliki buah hati merupakan impian setiap pasangan suami istri. Namun, tidak semua pasangan dapat mewujudkannya dengan cepat akibat kendala infertilitas (gangguan kesuburan). Menjawab kebutuhan dan kegelisahan tersebut, SMC RS Telogorejo Semarang menggelar seminar edukasi "Yuk Mulai Promil" yang berlangsung di Hotel Front One Purwodadi, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, pada Minggu (30/8/2026).
Agenda edukatif ini digelar untuk memberikan pemahaman komprehensif mengenai penanganan gangguan kesuburan serta berbagai jalan penanganan medis yang dapat ditempuh oleh para pasangan pejuang buah hati.
Spesialis Kandungan RS Telogorejo, dr. Lambang Agung Kurniawan, Sp.OG, menjelaskan bahwa masalah infertilitas bisa dialami oleh siapa saja dan dipicu oleh berbagai faktor, baik dari pihak suami maupun istri. Tren angka infertilitas saat ini bahkan tercatat menunjukkan kenaikan.
Acara yang berlangsung hangat ini tidak hanya menyedot perhatian warga Purwodadi dan sekitarnya. Sejumlah peserta bahkan rela datang dari luar daerah, seperti Kab. Blora dan Kab. Kendal. Besarnya antusiasme peserta dari luar kota tersebut tak lepas dari reputasi dan rekam jejak panjang Quality Fertilitas RS Telogorejo dalam menangani program kehamilan.
Menurut dr. Lambang, setiap pasangan memiliki kondisi medis yang unik sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan (personalized treatment). Jenis program yang disarankan sangat bergantung pada hasil pemeriksaan awal, mulai dari pembuahan alami yang diarahkan, inseminasi buatan, hingga program Bayi Tabung (In Vitro Fertilization/IVF).
Guna memaksimalkan peluang keberhasilan, RS Telogorejo menerapkan sistem kerja tim lintas spesialisasi yang solid. Tahap awal untuk mendeteksi sumber dan tingkat keparahan masalah kesuburan pada suami maupun istri. Tim yang terdiri dari spesialis kandungan, dokter andrologi, hingga embriolog duduk bersama menganalisis data medis untuk menentukan dosis dan metode yang presisi.
Sementara durasi persiapan bervariasi bergantung pada kebutuhan pemulihan atau perbaikan kondisi medis calon orang tua sebelum tindakan utama dilakukan.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Lambang secara tegas menepis kekhawatiran masyarakat mengenai tumbuh kembang anak yang lahir dari program bayi tabung. Ia menegaskan secara medis tidak ada perbedaan kualitas kesehatan maupun kerentanan fisik antara anak hasil IVF dan anak yang dikandung secara alami.
“Banyak faktor soalnya yang menentukan tingkat keberhasilan dari program hamil. Faktor usia juga bisa, lamanya, masalahnya dari suami atau istrinya, seberapa berat masalahnya. Nah, itu nanti kita akan tahu pasti apa kemungkinan yang akan kita lakukan setelah kita memeriksa lengkap, entah suami atau istri, atau dua-duanya." Ujarnya.
Direktur Pemasaran RS Telogorejo, Dian Loretta, mengungkapkan bahwa layanan IVF Klinik Telogorejo memiliki rekam jejak panjang sejak pertama kali berdiri pada tahun 1988 (38 tahun mengabdi). Kelahiran bayi tabung pertama klinik ini tercatat pada tahun 1991 dan hingga kini telah membantu melahirkan ratusan buah hati.
"Sekitar 1 sampai 2 dari 10 pasangan mengalami masalah infertilitas. Angkanya semakin bertambah seiring dengan pola hidup kurang sehat, pencemaran lingkungan, dan faktor-faktor pendukung lainnya," ujarnya.
"Bulan lalu kami mengadakan acara reuni dan berhasil mengumpulkan sekitar 100 pasangan alumni yang telah berhasil memiliki buah hati lewat program IVF di Klinik Telogorejo," tambahnya.
Sementara itu, BMC Corporate Yayasan Kesehatan Telogorejo Stevanus Adhitia Budi menambahkan bahwa layanan fertilitas ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Yayasan Kesehatan Telogorejo (YKT) yang tahun ini telah menginjak usia 101 tahun.
Selain pengoperasian SMC RS Telogorejo dan Politeknik Kesehatan Telogorejo, YKT juga terus mengembangkan penunjang layanan kesehatan masyarakat serta tengah menyiapkan ekspansi lokasi fasilitas kesehatan baru di Semarang. (AN)

.jpg)