BPBD: Krisis Air Makin Parah! 108 Desa di Grobogan Dijatuhi Kekeringan, Ini Wilayah Terparah


 


 

BPBD: Krisis Air Makin Parah! 108 Desa di Grobogan Dijatuhi Kekeringan, Ini Wilayah Terparah

Senin, 21 September 2026

GROBOG JATENG, Grobogan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan terus mengantisipasi dampak musim kemarau yang melanda wilayahnya. Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), masa kekeringan di Kabupaten Grobogan diprediksi berlangsung sejak Mei hingga Oktober, dengan perkiraan awal musim hujan jatuh pada November mendatang.

Kepala BPBD Kabupaten Grobogan Wahyu Tri Darmawanto mengatakan saat ini, kawasan Grobogan tengah memasuki masa puncak kekeringan gelombang kedua yang terjadi sepanjang Agustus hingga September.

Hingga data terbaru, tercatat sebanyak 108 desa di seluruh kabupaten telah mengajukan permohonan bantuan air bersih. Guna mengatasi krisis air tersebut, pihak BPBD telah mendistribusikan ratusan tangki air bersih ke wilayah terdampak.

"Sampai update terakhir, ada 108 desa yang memohon bantuan air bersih. Kami telah menyalurkan sebanyak 617 tangki air atau sekitar 3,1 juta liter," ujarnya pada Senin (21/9/2029). 

Menurutnya, beberapa kecamatan yang tercatat mengalami dampak kekeringan cukup parah dan paling banyak mengajukan bantuan suplai air bersih antara lain Kecamatan Karangrayung, Geyer, dan Toroh.

Selain mengandalkan armada internal, BPBD Grobogan juga menyiagakan dua unit tangki air harian serta berkolaborasi dengan berbagai pihak melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan lembaga sosial, seperti PMI, BAZNAS, Podo Rukun, dan Jasa Tirta.

Menghadapi sisa fase kekeringan hingga Oktober, BPBD mengimbau masyarakat untuk bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih, serta memanfaatkan sumber air alternatif terdekat guna memenuhi kebutuhan harian.

“Karena kita masih ada di bulan Oktober fase kekeringan, tentunya berharap agar ada penghematan air. Dan juga barangkali bisa mencari sumber-sumber air, karena kami dari BPBD tidak bisa mencukupi kesehariannya, sehingga beberapa alternatif mungkin mencari sumber air terdekat yang bisa digunakan oleh masyarakat." Harapnya. (AN/Red).