GROBOG JATENG, Ponorogo – Suasana Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, mendadak penuh kehangatan. Di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto, Pimpinan Pondok Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan pidato monumental dengan gaya khasnya: lugas, sarat makna, namun dibalut humor segar yang mencairkan suasana.
Berdiri di atas panggung seabad berdirinya pesantren (1926–2026), Kiai Hasan membawa hadirin menyelami lorong waktu. Salah satu momen yang memantik tawa adalah saat ia membedah asal-usul nama "Gontor".
Dengan nada kelakar, ia mengaitkan nama itu dengan istilah "nggon kotor" (tempat kotor)—sebuah wilayah yang dahulu diasosiasikan dengan berbagai problem sosial.
Dari tempat yang dulu dipandang sebelah mata, Gontor bertransformasi menjadi oase pendidikan yang menginspirasi dunia.
Dalam narasi sejarahnya, Kiai Hasan memberikan penghormatan mendalam kepada Trimurti—tiga tokoh pendiri Gontor: KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.
Ia menegaskan bahwa para pendiri tidak hanya meninggalkan bangunan fisik, melainkan telah mewakafkan seluruh hidup mereka. "Para pendiri telah mewakafkan ide, nilai, sistem, lembaga, hingga kecintaan mereka kepada pondok demi umat Islam dan bangsa," tuturnya. Dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden. Sabtu (19/9/2026).
Keberadaan Gontor hari ini, lanjutnya, adalah bagian dari "wakaf cinta" yang buahnya diharapkan dapat terus dipetik oleh seluruh rakyat Indonesia.
Menyinggung soal sejarah, Kiai Hasan mengutip jargon terkenal Bung Karno, "Jas Merah" (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah). Namun bagi Gontor, membaca sejarah saja tidak cukup.
"Pendidikan harus menjadi sarana untuk ikut membangun sejarah dan peradaban baru," tegasnya.
Gaya pidato Kiai Hasan yang dinamis membuat Presiden Prabowo dan para tamu undangan beberapa kali terpingkal-pingkal. Kiai Hasan berseloroh tentang penantian panjangnya menyambut kedatangan sang Presiden ke Gontor.
"Kalau sampai Pak Prabowo tidak hadir, saya bingung mau menaruh muka di mana," candanya.
Kelakar itu menggelinding menjadi sindiran filosofis tentang fenomena manusia yang gemar "cari muka".
Ia menyebut, manusia sering kali sibuk mencari apa yang belum mereka miliki, mulai dari ijazah, nama, uang, jabatan, hingga akhirnya "muka".
Menariknya, guyonan satir ini disampaikan secara universal tanpa menyasar figur atau pejabat tertentu.
Tak berhenti di situ, Kiai Hasan juga memamerkan bagaimana Gontor menjadi miniatur perekat umat. Di pondok ini, santri dari latar belakang Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah duduk di bangku yang sama tanpa kehilangan identitas aslinya saat kembali ke masyarakat.
Ia bahkan mencontohkan dinamika itu dari kehidupan pribadinya.
Sambil terkekeh, ia menceritakan bahwa dirinya kerap dianggap memiliki kecenderungan organisasi tertentu, padahal kenyataannya, para menantunya justru datang dari kalangan NU. Ruang acara pun kembali gemuruh oleh tawa dan tepuk tangan.
Di akhir coretan sejarahnya, Kiai Hasan menegaskan kembali khitah Gontor yang sejak awal memilih jalur pendidikan sebagai jalan pengabdian tertinggi untuk membina umat dan membangun bangsa.
Kehadiran Presiden Prabowo Subianto memang memberi bobot politis tersendiri pada acara ini.
Namun lewat pidato Kiai Hasan, seabad Gontor tidak terjebak menjadi panggung formalitas birokrasi.
Usia seratus tahun dinilai bukan sekadar deretan angka, melainkan sebuah refleksi besar tentang tanggung jawab generasi masa depan untuk merawat warisan nilai yang tak lekang oleh zaman. (*).
📷 Foto: Istimewa

.jpg)