Karhutla Sumbing Padam, Pengelola Sterilkan Jalur Pendakian


 


 

Karhutla Sumbing Padam, Pengelola Sterilkan Jalur Pendakian

Selasa, 27 Oktober 2026

GROBOG JATENG, Temanggung – Pascapadamnya karhutla di Gunung Sumbing, belasan pengelola basecamp bersama Perhutani menyiagakan tim untuk menyisir seluruh jalur pendakian selama 7–10 hari ke depan. Penutupan sementara masih diberlakukan demi memastikan keamanan pengunjung sebelum sektor pariwisata setempat kembali beroperasi. 

“Untuk sekarang masih tutup. Yang sudah telanjur booking kami refund 100 persen. Kalau untuk kuota pendakian pada hari normal sebanyak 200 orang per hari. Untuk pembukaan jalur, kami tunggu koordinasi dengan Perhutani,” ujar Pengelola Basecamp Bimawari, Dusun Seman, Desa Wonosari, Nardi, Minggu (25/10/2026). Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id.

Nardi menekankan pentingnya pembukaan kembali jalur pendakian pascamasa tanggap darurat, mengingat pariwisata menjadi tumpuan ekonomi warga. Harapan senada diungkapkan warga Wonosari, Muhadi, yang berharap tragedi karhutla 2018 dan 2026 ini tidak kembali terulang di masa mendatang. 

“Harapan kami, ini kejadian yang terakhir. Pemda bersama masyarakat bisa bekerja sama mengelola hutan dengan baik, memberi imbauan kepada pendaki, masyarakat, dan pengelola basecamp untuk siaga dan waspada terhadap api,” urainya.

Warga lainnya, Nur Badi, mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, krisis air menjadi salah satu hal yang dikhawatirkan warga saat terjadi karhutla. Beruntung, warga bersama relawan aktif melakukan upaya penyelamatan sumber air.

“Sebagai warga sini, kami mengucapkan terima kasih karena kebakaran telah berhasil diatasi. Harapannya, kejadian ini tidak terulang lagi. Kita bersama-sama menjaga diri agar tidak terjadi kebakaran lagi,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengapresiasi kerja keras relawan dan instansi terkait dalam memadamkan karhutla Gunung Sumbing. Pascabencana, Luthfi menginstruksikan jajarannya segera mengasesmen kebutuhan dasar warga terdampak, memetakan kebutuhan bibit pohon bersama Perhutani untuk reboisasi, serta memperkuat edukasi pencegahan karhutla bagi masyarakat dan pendaki. 

“Kita lakukan evaluasi, masih kita tutup. Sampai kita mempunyai database, pendataan kerusakan, pipanisasi selesai, layanan dasar terpenuhi, baru kita buka kembali,” ungkapnya, seusai rembug warga dan relawan di Basecamp Bimawari, Dusun Seman, Desa Wonosari.

Administratur KPH Kedu Utara, Dimyati, memastikan titik api di Gunung Sumbing telah padam berdasarkan pantauan lapangan dan sistem Karhutla SiPongi Kementerian Kehutanan. Dari total luas kawasan 4.535,56 hektare, karhutla berdampak pada area seluas 974,29 hektare—meliputi Wonosobo (362 ha), Temanggung (398,9 ha), dan Magelang (213,4 ha)—dengan vegetasi terbakar yang didominasi rumput sabana, kaliandra, serta pohon santigi. 

Guna mengantisipasi susulan, patroli intensif terus digencarkan bersama pengelola basecamp, relawan, dan Masyarakat Peduli Api. “Perhutani akan terus turun ke lapangan setiap hari sampai kondisi benar-benar dipastikan aman. Kami akan menyisir kawasan tersebut dan memadamkan jika masih ditemukan kepulan asap,” ungkapnya. (Hms/Ida).