GROBOG JATENG, Sragen – Sebanyak 17 rumah di Desa Kedungwaduk, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen menerima bantuan sambungan listrik gratis dari Perseroan Terbatas Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) pada Rabu (23/10/2024). Masing-masing rumah tangga mendapatkan bantuan pemasangan listrik gratis berdaya 450 – 900 Volt Ampere (VA).
Corporate Social Responsibility (CSR) yang disalurkan melalui program Penyalaan Serentak Light Up The Dream yang berarti “listrik untuk menyalakan mimpi” ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Listrik Nasional ke-79 Tahun 2024 yang jatuh pada Minggu (27/10/2024).
Kepala Desa Kedungwaduk, Priyadi menuturkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan adanya Program Desa Tuntas Kemiskinan (TUMIS) yang diinisiasi oleh Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati.
Manajer PT. PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Surakarta, Muhammad Khadafi, menambahkan program bertema “Indahnya berbagi dari Insan PLN yang peduli” tersebut merupakan sumbangsih dari karyawan-karyawati PLN yang mengumpulkan sebagian pendapatan mereka untuk dikonversikan menjadi sambungan listrik gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Melalui Program PLN Peduli Program Desa Tumis Kabupaten Sragen, kami berharap dapat meningkatkan daya mampu masyarakat dalam aktivitas rutin sehari-hari.” ucapnya. Dilansir dari website resmi Pemkab Sragen.
Dirinya juga berharap dengan adanya penyambungan listrik gratis ini, warga kurang mampu yang sebelumnya tidak memiliki aliran listrik mandiri dapat meningkat taraf hidupnya dari sisi perekonomian.
Ia menegaskan bahwa pemasangan listrik yang dilakukan secara serentak hari ini gratis, namun untuk pembayaran setiap bulan harus dilakukan oleh warga sendiri.
“Jangan khawatir karena pulsa listriknya juga mendapatkan subsidi, jadi berbeda dengan tarif biasanya.” imbuhnya.
Acara dilanjutkan dengan visit ke tiga lokasi untuk dilakukan penyerahan simbolis dengan menyalakan meteran listrik.
Mursidi, salah satu penerima manfaat, mengaku senang dan bersyukur karena kini ia telah memiliki listrik sendiri. Sebelumnya, ia dan warga lainnya bergantung dengan listrik di rumah orangtua atau sanak saudara yang rumahnya berdekatan dengan mereka.
Ia juga mengaku tidak keberatan apabila setiap bulannya harus membeli pulsa listrik senilai 50 – 100 ribu rupiah untuk pemakaian listrik di rumahnya meliputi lampu, penanak nasi, kulkas, kecil, dan televisi. (Hms/Fer).

.jpg)