Makam Ki Ageng Selo, Jejak Leluhur Raja Mataram dan Legenda Penangkap Petir


 


 

Makam Ki Ageng Selo, Jejak Leluhur Raja Mataram dan Legenda Penangkap Petir

Senin, 14 Juli 2025

GROBOG JATENG, Grobogan Makam tokoh legendaris Ki Ageng Selo menjadi salah satu destinasi ziarah spiritual atau wisata religi yang penting di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Terletak di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, lokasi ini berada sekitar 12 kilometer arah timur dari Kota Purwodadi menuju Blora, dan dapat ditempuh sekitar 30 menit. 

Dari informasi yang dihimpun, Ki Ageng Selo yang dikenal sebagai penangkap petir merupakan tokoh keturunan Raja Majapahit Brawijaya V. Nama kecilnya adalah Bagus Songgom atau Abdurrahman. Ia hidup pada masa awal Kesultanan Demak pada abad ke-16 dan menjadi bagian penting dalam silsilah pendiri Kerajaan Mataram. Ki Ageng Selo adalah leluhur langsung dari para raja di Surakarta dan Yogyakarta.

Legenda tentang kesaktiannya dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa. Dikisahkan, saat sedang mencangkul di sawah, ia mampu menangkap petir (bledheg) yang menyambar dalam bentuk naga, lalu mengikatnya di pohon gandri. Petir itu kemudian dibawa ke Demak, namun lenyap ketika seorang nenek menyiramkan air. Kisah tersebut bahkan diabadikan dalam ukiran Lawang Bledheg, pintu kayu di Masjid Agung Demak.

Kompleks makam Ki Ageng Selo tidak hanya mencakup pusara tokoh tersebut, tetapi juga sejumlah situs budaya lainnya seperti Masjid Ki Ageng Selo bergaya joglo kayu jati, almari penyimpan api petir, pohon gandri, sawah udreg, dan bedug kembar yang menyerupai bedug di Masjid Agung Demak. Masjid ini sempat dibongkar pada masa kolonial Belanda, kemudian dibangun kembali oleh Pakubuwana VI dan direnovasi oleh Pakubuwana X pada tahun 1930-an.

Makam Ki Ageng Selo telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 Jo. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010. Tempat ini rutin dikunjungi peziarah, khususnya pada malam Jumat dan hari-hari besar Islam. Selain menjadi lokasi spiritual, kompleks makam ini juga menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan sejarah Jawa. (Ida/AN/Red).