Gubernur Jateng Instruksikan Kepala Daerah Segera Ajukan Asuransi Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem


 


 

Gubernur Jateng Instruksikan Kepala Daerah Segera Ajukan Asuransi Gagal Panen Akibat Cuaca Ekstrem

Kamis, 15 Januari 2026


GROBOG JATENG, SurakartaCuaca ekstrem berupa hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa waktu terakhir mulai mengancam sektor pertanian. Mengantisipasi risiko gagal panen yang menghantui para petani, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menginstruksikan para kepala daerah untuk bergerak cepat mengurus klaim asuransi bagi lahan yang terdampak.

Arahan tegas ini disampaikan dalam acara Komitmen Bersama Pencapaian Target Kinerja Ketahanan Pangan Provinsi Jateng 2026 yang digelar di The Sunan Hotel, Kota Surakarta, Rabu (14/1/2026).

Gubernur menyoroti kondisi di beberapa titik krusial seperti Kudus, Pati, dan Jepara yang telah terendam banjir akibat hujan ekstrem. Ia meminta pemerintah kabupaten setempat segera mendata luas lahan terdampak dan berkoordinasi dengan Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares. 

“Pak Frans (Kadistanbun) nanti untuk Kudus, Pati, dan Jepara diminta segera ajukan terkait (asuransi) gagal panen,” ujarnya. Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id

Luthfi menyadari bahwa bencana hidrometeorologi sulit dihindari, namun dampaknya terhadap ekonomi petani harus diminimalisir melalui langkah mitigasi yang nyata. Ia menekankan agar pemerintah daerah tidak ragu dalam menetapkan status darurat serta memperkuat Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan bencana, mulai dari pembentukan satgas hingga pemenuhan logistik. 

Baginya, visi besar Jawa Tengah untuk mencapai swasembada pangan pada tahun 2026 dengan target produksi padi sebesar 10,5 juta ton gabah kering giling (GKG) hanya bisa terwujud jika ada sinergi yang kuat antara tingkat provinsi dan daerah.

“Tidak bisa dilakukan oleh gubernur seorang. Harus dengan (dukungan) para bupati/ wali kota,” tegas Luthfi.
Langkah responsif ini diharapkan dapat menjadi jaring pengaman bagi para petani di tengah tantangan iklim, sekaligus menjaga stabilitas pangan di Jawa Tengah tetap berada pada jalur yang tepat. (*).