Genjot Swasembada, Jateng Mulai Panen Raya Serentak: Produksi Padi 2026 Diprediksi Melesat 14 %


 


 

Genjot Swasembada, Jateng Mulai Panen Raya Serentak: Produksi Padi 2026 Diprediksi Melesat 14 %

Jumat, 20 Februari 2026

GROBOG JATENG, Semarang Provinsi Jawa Tengah resmi memulai langkah besar menuju swasembada pangan dengan menggelar panen raya padi serentak di 35 kabupaten/kota untuk periode Januari-Maret 2026.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung prosesi panen simbolis di lahan persawahan Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, pada Jumat (20/2/2026). Momentum ini menandai optimisme Jateng dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.



Berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah, produksi padi pada periode tiga bulan pertama tahun ini diperkirakan menembus 3,35 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Angka ini menunjukkan kenaikan signifikan sebesar 413.698 ton atau sekitar 14% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Ahmad Luthfi menegaskan bahwa tahun 2026 adalah momentum bagi Jawa Tengah untuk mengukuhkan diri sebagai lumbung pangan nasional.
“Tahun 2025 kemarin kita bisa dapat kontribusi 15% untuk nasional, tahun 2026 harus lebih meningkat,” tegas Luthfi di sela-sela kegiatan yang turut dihadiri Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan Kepala Bulog Jateng Sri Muniati. Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id.


Pemprov Jateng mematok target produksi total tahun 2026 sebesar 10,55 juta ton GKG, naik 12,22% dari capaian 2025. Untuk mencapai angka tersebut, luas tanam ditargetkan mencapai 2,38 juta hektare sepanjang tahun.
Strategi 'Openi' Petani dan Konektivitas Daerah
Guna mengawal target ambisius tersebut, Gubernur telah menginstruksikan jajaran Dinas Pertanian dan Peternakan untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah di 35 kabupaten/kota.

“Konektivitas dengan 35 kabupaten/ kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan, kita openi dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” ujar Luthfi.


Salah satu daya tarik dalam panen raya kali ini adalah diperkenalkannya mekanisasi "Sistem Sepur". Teknologi ini mengintegrasikan seluruh proses dari panen hingga tanam kembali dalam satu rangkaian waktu yang singkat.

“Pakai alat tadi terbukti memang lebih cepat,” puji Luthfi saat melihat alat-alat mekanis bekerja.


Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menjelaskan bahwa sistem ini melibatkan combine harvester di barisan depan untuk memanen, disusul mesin pengolah sawah, drone penyiram dekomposer jerami, hingga mesin rice transplanter untuk menanam kembali.

“Saking berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih,” jelas Defransisco.

Efisiensi yang dihasilkan sangat drastis. Jika pengolahan lahan seluas 2 hektare secara manual membutuhkan waktu hingga 10 hari, dengan Sistem Sepur, pekerjaan tersebut bisa rampung hanya dalam satu hari.

Hasil Ubinan Menjanjikan
Selain kecepatan, produktivitas lahan juga menunjukkan hasil positif. Dari hasil ubinan di lokasi, tercatat rata-rata hasil mencapai 6 ton per kotak ubinan (25 meter persegi).

“Jika maksimal, satu hektare bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga,” pungkas Defransisco. (*).