GROBOG JATENG, Grobogan – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, S.E., M.M., menyoroti tajam masalah kerusakan lingkungan dari hulu hingga hilir. Hal itu disampaikan saat menghadiri Rembug Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Pendopo Kabupaten Grobogan pada Jumat (29/5/2026).
Sumarno menjelaskan bahwa forum ini menjadi wadah penting untuk menyamakan persepsi dengan pemerintah kabupaten dan kota terkait pengembangan pariwisata. Menurutnya, konsep pariwisata berkelanjutan mustahil tercapai tanpa adanya komitmen kuat dalam menjaga kelestarian alam, terutama di tengah tantangan nyata berupa kerusakan lingkungan yang sedang dihadapi bersama.
Lebih lanjut, Sumarno mengajak pemangku kebijakan dan masyarakat untuk menyentuh aspek religius dalam menjaga alam. Tindakan merusak lingkungan seperti membuang sampah sembarangan sering kali dianggap remeh karena dampaknya tidak langsung dirasakan, padahal memiliki konsekuensi moral dan spiritual yang besar.
"Marilah kita buka dari pendekatan keagamaan. Ternyata bahwa kita merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan itu sebenarnya punya dampak yang luar biasa, tidak hanya di dunia sampai ke akhirat. Karena apa? Kita membuat dosa karena menyakiti orang, membuat orang lain menderita apa yang kita lakukan karena merusak lingkungan," tegasnya.
Untuk memaksimalkan gerakan sadar lingkungan ini, Sekda Jateng meminta kerja sama dari jajaran pemerintah kabupaten/kota agar merangkul para tokoh agama dan ulama guna menyisipkan pesan kelestarian lingkungan dalam mimbar-mimbar keagamaan.
"Jadi kita minta tolong ke teman-teman dari kabupaten/kota mungkin bisa meminta tolong tokoh agama, ulama, untuk bisa menyampaikan di forum-forum, baik itu khotbah Jumat, pengajian, dan sebagainya, agar kita bersama-sama memunculkan kepedulian... Kalau kita enggak peduli, ternyata kita panen dosa tiap hari yang tidak kita sadari," tambah Sumarno.
Selain isu lingkungan, Sumarno mengapresiasi pertumbuhan ekonomi akseleratif di sejumlah daerah WP Kedungsepur seperti Kendal dan Demak berkat pengembangan kawasan industri, sembari mengingatkan bahwa capaian makro ekonomi Provinsi Jawa Tengah merupakan cerminan langsung dari kinerja kolektif seluruh kabupaten dan kota di bawahnya.
"Memang pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah itu kan bukan provinsi sendiri, karena provinsi adalah agregat dari teman-teman kabupaten/kota. Jadi kami berterima kasih sekali dan itulah bentuk dari kita kumpul seperti ini adalah kita bagaimana menyamakan persepsi, berkolaborasi supaya tadi capaian-capaian kinerja utama itu bisa sama-sama akseleratif," jelasnya.
Sumarno menggarisbawahi bahwa sinkronisasi dan kolaborasi aktif melalui forum rembug pembangunan seperti ini adalah kunci utama. Tanpa adanya pergerakan yang cepat dari tingkat kabupaten dan kota, target-target besar di tingkat provinsi tidak akan pernah bisa tercapai secara optimal.
"Karena akseleratif kabupaten/kota itu adalah akseleratifnya juga provinsi. Kalau kita mau akseleratif kayak apa pun provinsi kalau kabupaten/kota enggak akseleratif, ya enggak bisa. Inilah pentingnya kita bertemu berdiskusi," pungkasnya.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Tengah, kepala daerah se-WP Kedungsepur, yakni, Kendal, Demak, Kota Semarang dan Kabupaten Semarang, dan Purwodadi Grobogan serta jajaran OPD dan TAPD. Forum ini juga melibatkan partisipasi aktif dari perwakilan organisasi sosial hingga kelompok rentan guna memastikan perencanaan pembangunan berjalan inklusif. (Ida/AN/Red).

.jpg)