Aksi Mageri Segoro Gubernur Ahmad Luthfi: "Jangan Cuma Menanam Lalu Ditinggal!" Wajib Cek Tanaman 3 Hari Sekali


 


 

Aksi Mageri Segoro Gubernur Ahmad Luthfi: "Jangan Cuma Menanam Lalu Ditinggal!" Wajib Cek Tanaman 3 Hari Sekali

Minggu, 07 Juni 2026

GROBOG JATEN, Semarang Matahari baru naik sepenggalah, membasuh langit pagi dengan warna keemasan yang hangat, Sabtu (6/6/2026). Di pesisir Pantai Tirang Kota Semarang, debur ombak berkejaran menghempas pasir. 

Ombak itu meninggalkan jejak-jejak buih putih yang perlahan larut ditelan bumi.Di tengah harmoni alam yang tenang itu, riuh rendah langkah kaki mulai terdengar. 

Puluhan orang berkumpul membawa asa baru. Mereka bersiap menanam bibit-bibit cemara laut dan mangrove. Langkah ini dilakukan demi menjaga pantai dari amukan abrasi. Hari itu mereka tidak sekadar menanam pohon. Mereka sedang merajut sabuk hijau untuk masa depan pesisir yang lebih abadi.

Puluhan orang itu berasal dari berbagai elemen. Ada yang dari pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat. Kegiatan ini diadakan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 tingkat Provinsi Jawa Tengah. 

Aksi nyata ini dipimpin langsung oleh Gubernur Ahmad Luthfi.Di Pantai Tirang Kota Semarang, sebanyak 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove ditanam. Selain menanam pohon, warga juga melakukan gerakan bersih-bersih pantai secara gotong royong. 

Pada hari yang sama, penanaman pohon dilakukan secara serentak di 16 kabupaten dan kota pesisir di Jawa Tengah. Total bibit yang ditanam mencapai 92.290 bibit.

Dalam kesempatan itu, Luthfi mengatakan bahwa menjaga lingkungan tidak bisa hanya dikerjakan pemerintah. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama dari seluruh elemen masyarakat. 

Dia menegaskan, persoalan lingkungan harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama dan membutuhkan kesadaran kolektif.

Gubernur menjelaskan, kegiatan penanaman pohon di kawasan pesisir menjadi bagian dari program Gerakan Mageri Segoro. Gerakan tersebut dimaknai sebagai upaya melindungi laut dan kawasan pesisir dari ancaman rob dan abrasi. “Mageri Segoro itu segara yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” kata dia.

Luthfi mencontohkan sejumlah kawasan pantai di Pantura yang mengalami tekanan serius akibat abrasi. Karena itu, penanaman mangrove dan tanaman pesisir harus dilihat sebagai upaya jangka panjang menjaga garis pantai.

Luthfi mengingatkan menanam saja tidak cukup. Tanaman yang sudah ditanam harus dirawat agar tidak mati. Pohon-pohon itu harus benar-benar memberi manfaat bagi kawasan pesisir. Untuk itu, dia meminta dinas terkait, penggiat lingkungan, hingga kawasan industri agar ikut menjaga tanaman yang sudah ditanam. 

Terlebih, penanaman dilakukan menjelang musim kemarau, sehingga perlu pemantauan rutin. “Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” tegasnya.

Selain soal abrasi dan rob, Luthfi juga menyoroti persoalan pengambilan air tanah. Dia meminta evaluasi kebijakan pengambilan air tanah dilakukan lebih rutin. Hal itu sebagai langkah mencegah penurunan tanah, khususnya di wilayah pesisir.

Menurut gubernur, masyarakat juga harus diedukasi agar tidak sembarangan mengambil air tanah. Pemerintah daerah perlu memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM melalui BUMD. Selain itu, teknologi desalinasi juga didorong untuk kawasan pesisir, terutama bagi masyarakat nelayan.Pada kesempatan yang sama, Luthfi juga menegaskan sampah menjadi bagian penting dari persoalan lingkungan. 

Dia menyebut, sesuai arahan Presiden RI, Indonesia menargetkan zero waste pada 2029, termasuk di seluruh daerah.Luthfi menjelaskan Pemprov Jateng telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten/kota. Daerah dengan timbulan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan skema aglomerasi atau regional.

Skema itu antara lain disiapkan untuk kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya. 

Sementara daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan refuse-derived fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan oleh pabrik semen.

Sebagai informasi, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema "Saatnya Bekerja untuk Iklim". Tema itu dinilai relevan bagi Jawa Tengah karena dampak perubahan iklim telah dirasakan masyarakat. Salah satunya melalui bencana hidrometeorologi yang mendominasi kejadian bencana alam di provinsi ini. (GJ/Red).