Kebumen Geopark Trail Run 2026: Sensasi Ekstrem Pelari Menembus Gua dan Pantai Selatan


 


 

Kebumen Geopark Trail Run 2026: Sensasi Ekstrem Pelari Menembus Gua dan Pantai Selatan

Senin, 29 Juni 2026

GROBOG JATENG, Kebumen Sebanyak 1.500 pelari dari berbagai daerah memadati kawasan pesisir selatan Jawa Tengah untuk mengikuti ajang Kebumen Geopark Trail Run (KGTR) 2026 pada Minggu, 28 Juni 2026. 

Kompetisi lari lintas alam tahunan ini menyuguhkan rute unik yang menggabungkan keindahan pantai, perbukitan, aliran sungai, hingga kawasan gua prasejarah yang masuk dalam situs warisan geologi Kebumen.

Berbeda dengan ajang trail run pada umumnya, KGTR 2026 menawarkan tantangan yang belum pernah ada di Indonesia. 

Race Director KGTR 2026, Leonardus Bagus, mengungkapkan bahwa kompetisi tahun ini melombakan empat kategori rute, yakni 7K, 17K, 30K, dan 50K.Kategori 50K menjadi magnet utama sekaligus rute paling ekstrem. 

Para pelari di kelas ini diwajibkan menembus kegelapan dua gua alami, yakni Gua Petruk sepanjang 300 meter dan Gua Wora-Wari di Pantai Lampon sepanjang 187 meter.

"Yang membuat event ini berbeda, rutenya paling komplet. Pelari mendapatkan rute pantai, gunung, pasir, sungai, sampai gua. Ini satu-satunya event di Indonesia yang ada segmen masuk gua," ujar Leonardus saat diwawancarai awak media di lokasi acara, Minggu (28/6/2026).

Tingginya minat peserta bahkan membuat pihak panitia terpaksa membatasi kuota pendaftaran. Faktor keterbatasan akomodasi di sekitar lokasi menjadi alasan utama pembatasan tersebut dilakukan demi menjaga kenyamanan pelari.

Sekda Jateng Ikut Jajal Rute 17KAjang ini juga diikuti oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno. Ia ikut melebur bersama ribuan peserta dan menjajal langsung kategori rute 17K. 

Memulai flag-off sejak pukul 05.00 WIB di Pantai Karangbolong, Sumarno berhasil menyentuh garis finis pada pukul 09.27 WIB setelah melewati lanskap Pantai Sagara, Watubalang, Surumanis, Lampon, hingga Pantai Pecaron.Sumarno mengaku takjub dengan keaslian alam yang disajikan sepanjang jalur lari lintas alam tersebut. 

"Tadi masuk gua juga. Geopark ini adalah warisan kekayaan dan destinasi wisata bukan buatan. Kita tidak bisa membuat ini. Itu ciptaan Allah, mari kita cintai, kita jaga, dan kita lestarikan," kata Sumarno.

Melihat potensi pariwisata yang besar, Sumarno mendorong masyarakat lokal untuk menangkap peluang ekonomi dengan menyulap hunian mereka menjadi homestay. Ia mencontohkan keberhasilan ekosistem wisata di kawasan Borobudur yang berhasil mengedukasi warga lokal menjadi tuan rumah yang ramah bagi wisatawan asing maupun domestik.

Selain mempromosikan pariwisata berbasis geologi (geotourism), KGTR 2026 mencatatkan dampak instan terhadap perputaran ekonomi di Kabupaten Kebumen. Panitia mencatat perputaran uang dari biaya registrasi peserta saja menembus angka Rp900 juta.

"Jika ditambah belanja peserta untuk penginapan, konsumsi, dan kebutuhan lainnya, nilai ekonomi yang berputar diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar. Ini jauh lebih tinggi dari tahun kemarin," tutur Leonardus Bagus.

Kesan mendalam turut dirasakan oleh Raivan Gustian Santiko, pelari asal Purworejo yang sukses menjadi yang tercepat di kategori 17K. Kendati medannya sangat menguras fisik, kehadiran warga lokal di sepanjang rute yang riuh memberikan semangat menjadi suntikan energi tersendiri. (GJ/Red).