GROBOG JATENG, Semarang — Di tengah situasi sulit akibat melemahnya nilai tukar rupiah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus bergerak mendampingi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Langkah nyata ini diambil demi menjaga urat nadi perekonomian rakyat kecil di wilayah tersebut agar tetap bertahan dan tangguh menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan, terus memperkuat pendampingan terhadap pelaku UMKM. Sebab, UMKM menjadi salah satu penopang utama ekonomi Jawa Tengah, sehingga perlu terus dibina agar lebih tahan menghadapi dinamika ekonomi. Apalagi, jumlah UMKM di provinsi ini mencapai 4,2 juta unit usaha.
Potensi besar dari jutaan unit usaha tersebut dinilai sebagai kekuatan utama dalam menjaga kesejahteraan masyarakat daerah. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen tidak hanya menemani para pelaku usaha untuk sekadar bertahan hidup, tetapi juga merangkul mereka agar bisa naik kelas melalui kemudahan modal, pendampingan intensif, mempercantik kemasan, hingga memperluas jangkauan pasar.
Selain modal, Pemprov Jateng juga mendorong penguatan kualitas produk agar UMKM lebih kompetitif. Pendampingan tersebut mencakup pembenahan packaging (pengemasan), pemasaran, hingga peluang masuk ke rantai ekspor.
“UMKM merupakan backbone-nya (tulang punggung) ekonomi Provinsi Jawa Tengah, yang menjadi andalan kita, sehingga selalu kita bina,” ujar Luthfi, di sela Rapat paripurna DPRD Jateng, di Gedung Berlian Semarang, Senin (8/8/2026). Dikutip dari media jatengprov.
Kendati demikian, Luthfi menyadari bahwa melonjaknya harga bahan baku akibat merosotnya nilai rupiah merupakan ujian berat bagi pelaku usaha. Ia menegaskan pemerintah daerah tidak boleh berjalan sendirian, melainkan harus saling menguatkan lewat kolaborasi dengan sektor jasa keuangan, perbankan, hingga para pelaku usaha itu sendiri.
“Kita harus gandeng BI, kemudian OJK, kemudian bidang usaha, kemudian bank di tempat kita. Jadi bersama-sama untuk bisa menyelesaikan,” pungkasnya. (Hms/Ida).

.jpg)