Ahmad Luthfi Minta Mahasiswa Tak Asal Demo: Kritik Boleh, Tapi Harus Punya Etika!


 


 

Ahmad Luthfi Minta Mahasiswa Tak Asal Demo: Kritik Boleh, Tapi Harus Punya Etika!

Rabu, 01 Juli 2026

GROBOG JATENG, Semarang Atmosfer akademis yang dinamis di Jawa Tengah mendapat respons positif dari pucuk pimpinan daerah. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kebebasan berekspresi para mahasiswa, terutama dalam menyalurkan kritik dan aspirasi terhadap jalannya pemerintahan.

Apresiasi tersebut digaungkan langsung oleh Luthfi saat hadir sebagai pembicara kunci dalam pembukaan Training Raya Akbar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang. Acara yang mempertemukan ratusan kader muda ini digelar di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang, pada Selasa (30/6/2026).

“Mahasiswa di kampus bebas untuk berekspresi. Mahasiswa juga berhak menyampaikan pendapat di muka umum, itu ada undang-undangnya. Saya menghargai itu sebagai bentuk kepedulian adik-adik mahasiswa kepada, bangsa dan negara,” ujarnya di hadapan para peserta.

Meski mendukung penuh ruang demokrasi tersebut, Luthfi memberikan catatan penting mengenai koridor penyampaian pendapat. Ia mengingatkan bahwa ruang publik tetap terikat pada etika, norma, dan regulasi yang berlaku. 

Aspirasi yang berniat baik seyogianya tidak dicoreng oleh cara-cara penyampaian yang menabrak aturan hukum.Lebih dari sekadar mengkritik, mantan Kapolda Jateng ini juga melecut motivasi generasi muda agar aktif menyumbang solusi nyata demi kemajuan tanah air.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mempunyai energi lebih. Jadi energi lebih ini harus disalurkan, dengan banyak menyampaikan ide-ide konstruktif,” kata dia.

Langkah solutif ini dinilai krusial mengingat tantangan global yang kian kompleks. Dunia saat ini tengah menghadapi pergeseran besar, mulai dari urusan ekonomi, disrupsi kecerdasan buatan (artificial intelligence), hingga tuntutan kualitas SDM. Situasi ini diperparah oleh memanasnya tensi politik internasional.

“Belum lagi dampak geopolitik dunia dari adanya perang Ukraina-Rusia, konflik Timur Tengah, dan perang Iran-Amerika Serikat dan Israel. Lalu sekarang ada juga tekanan fiskal yang membuat kepala daerah harus lebih kreatif dalam membangun daerahnya,” jelasnya.

Menyikapi himpitan persoalan tersebut, Luthfi menegaskan bahwa kunci utama menghadapinya adalah sinergi. Pemerintah daerah tidak bisa lagi berjalan sendiri atau hanya bertumpu pada pos anggaran konvensional seperti APBD dan pendapatan asli daerah. 

Kreativitas dan pasokan ide dari elemen masyarakat, termasuk dunia kampus, menjadi motor penggerak baru.“Kita gandeng semua, termasuk mahasiswa. Kita harus ciptakan Jawa Tengah yang adem ayem,” ujar dia menekankan pentingnya kondusivitas wilayah.

Gayung bersambut, komitmen pembangunan ini disambut hangat oleh elemen mahasiswa. Ketua Umum HMI Cabang Semarang, M Nabil Muallif, menjelaskan bahwa pelatihan akbar ini memang dirancang untuk mencetak kader tangguh yang siap mendongkrak daya saing bangsa.

Generasi muda, menurut Nabil, tidak boleh menutup mata terhadap ancaman krisis geopolitik maupun badai teknologi. Ia pun memastikan bahwa kelompok mahasiswa siap membuka diri untuk bersinergi dengan pemerintah demi kemaslahatan daerah dan negara. (GJ/Red).