GROBOG JATENG, Temanggung– Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membayangi wilayah Jawa Tengah seiring datangnya musim kemarau. Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat memperkuat lini pertahanan di tingkat tapak dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Langkah ini diambil demi memperketat pemantauan titik panas (hotspot) serta mendongkrak kapasitas warga dalam menghadapi potensi bencana.
Aksi nyata salah satunya terlihat di lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Desa Batursari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.
Dimana, puluhan relawan yang tergabung dalam MPA Abdi Bumi bahu-bahu membuat sekat bakar di areal hutan. Langkah preventif ini krusial agar kobaran api tidak meluas jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Tak hanya itu, para relawan juga menyisir dan memeriksa saluran air vital yang menyuplai kebutuhan air bersih bagi warga sekitar.
Anggota MPA Abdi Bumi, David Yusuf Setiawan, mengungkapkan bahwa intensitas patroli sengaja ditingkatkan secara rutin selama kemarau berlangsung. Pembuatan sekat bakar yang dilakukan dengan membersihkan semak belukar di jalur tertentu terbukti efektif memutus perambatan api sehingga kebakaran lebih mudah dikendalikan.
Tindakan sigap para relawan ini tidak lepas dari bekal edukasi yang mereka terima di masa lalu. Pengalaman pahit di masa silam menjadi pelajaran berharga bagi komunitas lokal.
“Dulu, sekitar 2016, kebakaran hutan cukup sering terjadi. Kemudian kami mendapat pelatihan dari Cabang Dinas Kehutanan Pemprov Jateng, termasuk berbagai peralatan dan pengetahuan untuk pemadaman kebakaran hutan,” ujarnya, Kamis (16/7/2026), kepada awak media.
David menekankan bahwa dampak karhutla jauh lebih mengerikan dari sekadar hilangnya pepohonan. Kerusakan ekosistem di kawasan hutan secara langsung mengancam keberlangsungan sumber mata air yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat. Selain memicu krisis air, kebakaran juga otomatis memukul sektor pariwisata karena jalur pendakian Gunung Sumbing terpaksa ditutup.
“Tapi pascakebakaran itu yang paling krusial. Karena sumber-sumber air akan mati, begitu juga dengan asapnya pasti akan mengganggu lingkungan kita. Pemulihannya bisa sampai 4-5 tahun baru ada vegetasinya,” tuturnya.
Guna meminimalisasi kelalaian manusia (human error), MPA Abdi Bumi tidak hanya fokus pada pemadaman, melainkan juga pada aspek pencegahan. Setiap pendaki yang hendak menuju puncak diberikan edukasi ketat agar tidak membuat api unggun dan selalu memastikan puntung rokok telah padam sepenuhnya sebelum dibuang.
Komitmen warga di tingkat tapak ini mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari jajaran pemerintah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah, Heru Djatmika, menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, Pemprov Jateng berkomitmen penuh menyokong pembentukan MPA. Saat ini, tercatat sudah ada 46 MPA yang tersebar di berbagai wilayah rawan di Jawa Tengah.
Sebagai payung hukum dan koordinasi, Pemprov Jateng telah mengesahkan pembentukan Satuan Tugas Pengendalian dan Penanganan Karhutla melalui Keputusan Gubernur. Satgas lintas sektoral ini mengintegrasikan kekuatan dari BPBD, DLHK, Dinas Kesehatan, serta perangkat daerah terkait.
“Jadi memang harus sinergi antara Satgas dengan MPA. Nah, MPA itu ujung tombak yang nanti memperkuat Satgas yang telah terbentuk. Tempo hari kami juga menggelar pembentukan dan pelatihan MPA di Purworejo,” ujarnya.
Upaya mitigasi yang masif ini sangat beralasan mengingat luasnya bentangan hijau di provinsi ini. Berdasarkan data DLHK, total luas hutan di Jawa Tengah mencapai 1.385.039 hektare, atau mencakup sekitar 42,56 persen dari total luas wilayah. Angka ini terbagi atas hutan negara seluas 649.413 hektare dan hutan rakyat sebesar 735.625 hektare.
Heru memetakan bahwa kerawanan tertinggi berada di kawasan pegunungan dengan vegetasi yang mulai mengering, serta wilayah dengan karakteristik iklim kering seperti Kabupaten Blora dan Kabupaten Rembang.
Melalui kesiapan logistik dan personel, pemerintah berharap dampak kemarau tahun ini bisa ditekan seminimal mungkin.
“Kami juga telah menggelar apel siaga tingkat provinsi, sebagai bentuk persiapan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan. Kami juga mengajak masyarakat, terutama MPA, tetap semangat membantu apabila terjadi kebakaran,” pungkas Heru. (AN).

.jpg)