Atasi Krisis Air, Pemprov Jateng Siapkan Desalinasi di Pati


 


 

Atasi Krisis Air, Pemprov Jateng Siapkan Desalinasi di Pati

Rabu, 07 Oktober 2026

GROBOG JATENG, Pati – Sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih di Desa Triguno, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Pemprov Jawa Tengah tidak sekadar menyalurkan bantuan droping air. Pemerintah turut menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) guna menerapkan teknologi desalinasi untuk menyulap air payau menjadi layak konsumsi.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menjelaskan, tantangan di Desa Triguno jauh lebih kompleks daripada sekadar kemarau musiman. Kondisi air tanah yang payau membuat warga selama ini kesulitan memperoleh sumber air yang aman untuk memenuhi kebutuhan dapur dan minum sehari-hari.

“Ternyata di desa ini airnya payau, sehingga yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya air bersih untuk minum ya,” kata Taj Yasin, saat menyalurkan bantuan air bersih bersama Ketua Tim Penggerak PKK Jateng Nawal Arafah Yasin, di Desa Triguno, Selasa (6/10/2026). Dilansir dari website resmi jatengprov.go.id.

Untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka pendek, Pemprov Jateng menyalurkan 10 truk air bersih ke Desa Triguno, sementara penanganan jangka panjang dikebut lewat kolaborasi bersama Undip untuk mengolah air payau menjadi air layak konsumsi melalui teknologi desalinasi.

“Kita nanti akan kerja sama melanjutkan program Pemprov yaitu desalinasi dengan Undip. Kita bikin di desa ini supaya air payau itu nanti bisa diubah menjadi air minum,” ujarnya.

Selain menyiapkan desalinasi, Wagub Taj Yasin juga melirik potensi Bendungan Triguno berkapasitas 35.000 meter kubik yang salurannya perlu dinormalisasi agar airnya mengalir optimal. Sementara itu, Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mencatat ada sekitar 60 desa yang kini terdampak kekeringan. 

“Kami terus berupaya untuk pengiriman air bersih, entah dari CSR, entah dari BTT (Belanja Tidak Terduga) sudah kami siapkan,” katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Sukawi, mengatakan persoalan kekeringan di desanya sudah berlangsung sekitar lima bulan, sejak awal Mei. Ia menyebut, biasanya ada sekitar 40 tangki air yang dikirim untuk memenuhi kebutuhan warga. Jika bantuan tersebut tidak datang, masyarakat akan kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kalau musim kemarau di sini biasanya jatah dari kabupaten itu ada 40 tangki. Itu wajib kayaknya, kalau enggak ada bantuan susah sini,” ujarnya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, selama periode 5 Juni sampai 28 September 2026, total 75.463.000 liter air bersih terdistribusi ke 33 kabupaten/kota terdampak di Jawa Tengah. Total penerima manfaat sebanyak 1.557.333 KK atau 2.341.548 jiwa yang tersebar di 255 kecamatan dan 784 desa/kelurahan. (Hms/Ida).