BPBD Jateng Siaga Hadapi Pancaroba dan El Nino, Masyarakat Diajak "Menabung Air"


 


 

BPBD Jateng Siaga Hadapi Pancaroba dan El Nino, Masyarakat Diajak "Menabung Air"

Kamis, 16 April 2026

GROBOG JATENG, Semarang Memasuki masa peralihan musim atau pancaroba, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah mulai memperketat langkah antisipasi. Fenomena El Nino yang diprediksi membayangi musim kemarau tahun ini menjadi perhatian serius demi menekan risiko bencana.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi BMKG, wilayah Jateng saat ini masih berada dalam transisi yang rentan cuaca ekstrem.

“Meski secara umum mulai masuk musim kemarau, kondisi saat ini masih pancaroba. Potensinya bisa hujan lebat atau angin kencang,” katanya ditemui di kantornya di Semarang, Rabu (15/4/2026). Dikutip dari website jatengprov.


Fenomena El Nino diperkirakan akan memperparah kekeringan dengan puncak intensitas pada 2026 atau 2027. Sebagai langkah konkret, BPBD Jateng telah menginstruksikan pemerintah kabupaten/kota untuk memperkuat sarana prasarana pemenuhan air bersih, mulai dari pembangunan sumur dalam hingga optimalisasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM).

“Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah provinsi dengan menambah air sumur, begitu ya. Sumur dalam untuk tambahan-tambahan atau membangun SPAM, gitu, sudah dilakukan melalui program-program pemerintah provinsi tentunya,” beber Bergas.

Sejumlah wilayah seperti Klaten, Sragen, Grobogan, Blora, Rembang, hingga kawasan Pantura, kembali menjadi fokus pengawasan karena secara historis sering mengalami krisis air bersih.


Tak hanya mengandalkan bantuan pemerintah, Bergas mendorong adanya kemandirian masyarakat melalui konsep "menabung air". Masyarakat diminta memanfaatkan tandon atau wadah penampungan selagi hujan masih turun.

“Konsepnya menabung air. Masyarakat bisa memanfaatkan tandon atau wadah sederhana untuk menyimpan air, sebagai cadangan saat kemarau,” terangnya.

Bahkan, Bergas menyarankan penggunaan wadah kapasitas 5.000 liter yang bisa diupayakan melalui kolaborasi di tingkat akar rumput.

“Wadah-wadahnya ini dapat dari mana? Bisa dibangun dengan terpal, bisa minta bantuan CSR dari potensi wilayah minta bantuan tandon-tandon 5.000 liter, 2.000 liter, satu wilayah satu, enggak usah harus bicara desalah, bicara RT, RW,” jelas Bergas.


Selain kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran permukiman turut diwaspadai. Bergas menekankan pentingnya kesadaran kolektif, terutama bagi para pendaki dan masyarakat di sekitar kawasan hutan agar tidak melakukan aktivitas pemicu api.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan hutan di musim kemarau akan berdampak pada bencana lain saat musim hujan tiba.

“Cerita tentang Pemalang-Purbalingga yang banjir bandang atau debris flow itu, tidak terlepas dari cerita Gunung Slamet yang pernah terbakar. Artinya di atas gundul, ada material pohon-pohon hutan yang jatuh atau sudah rusak akibat kebakaran di masa itu, yang turun ke bawah pada saat musim hujan,” imbaunya. (GJ)