Gagal Masuk Negeri, Anak Ojol di Semarang Bisa Sekolah Gratis Lewat Program Kemitraan


 


 

Gagal Masuk Negeri, Anak Ojol di Semarang Bisa Sekolah Gratis Lewat Program Kemitraan

Selasa, 14 Juli 2026

GROBOG JATENG, Semarang Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meninjau hari pertama Program Sekolah Kemitraan gratis di SMA Laboratorium UPGRIS, Semarang, pada Senin (13/7/2026). Program Pemprov Jateng ini menjadi solusi nyata bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang tidak lolos seleksi sekolah negeri agar tetap bisa bersekolah.

Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Rafa Fidianto, anak seorang pengemudi ojek yang kini bisa melanjutkan pendidikannya di SMA tersebut. Ia mengaku sangat senang dan terbantu karena tetap bisa bersekolah setelah sebelumnya sempat gagal masuk sekolah negeri.

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini, karena bisa mendapat banyak teman,” ucap Rafa saat berdialog dengan Gubernur, kepada awak media.

Melalui program ini, Rafa berharap dapat mewujudkan cita-citanya menjadi seorang tentara sekaligus membanggakan orang tuanya.

Kesempatan yang sama dirasakan oleh Noval Surya Saputra yang merasa senang bisa tetap sekolah tanpa membebani ibunya, Mutiari Setyawati. Mutiari menjelaskan bahwa meski awalnya ingin masuk sekolah negeri, Noval akhirnya memilih SMA Laboratorium UPGRIS karena pertimbangan jarak dari rumah mereka di Bandungan.

“Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Sebagai orang tua saya hanya bisa terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” ucapnya.

Cerita lain datang dari Kamdani, buruh tani ini merasa lega bisa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut secara gratis. Dengan penghasilan tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, ia mengaku kesulitan apabila harus menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak ketiganya.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Jateng berulang kali menyemangati para siswa agar tidak merasa rendah diri, karena kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

“Boleh kita punya sekolah yang berbeda, boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesannya.

Ia menegaskan, kondisi ekonomi tidak boleh membuat seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. “Mereka harus tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berhenti hanya karena kondisi keluarga kurang mampu,” katanya.

Gubernur mengatakan, kehadiran program Sekolah Kemitraan menjadi bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memberikan jaminan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu. “Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk selalu memberikan jaminan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemprov Jateng bekerja sama dengan 139 sekolah swasta (56 SMA dan 83 SMK) untuk menampung 3.663 siswa kurang mampu, jumlah yang meningkat dari tahun lalu. Khusus di Kota Semarang, terdapat 51 siswa yang diterima melalui program ini, termasuk 24 siswa di SMA Laboratorium UPGRIS.

Selain bantuan pendidikan, sebanyak 55 siswa menerima perlengkapan sekolah dan para orang tua mendapatkan paket sembako dari Baznas Jateng. Dalam tinjauan tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi juga mengimbau pihak sekolah agar memastikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berjalan dengan aman, humanis, dan menyenangkan.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi harus menjadi tempat yang menyenangkan, sehingga anak-anak merasa nyaman,” tegasnya. (Hm/Ida/AN/Red).