GROBOG JATENG, Wonosobo – Rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo resmi dimulai melalui prosesi sakral Pasrah Tampi Panji Miwah Pusaka di Halaman Pendopo Bupati, Kamis (2/7/2026). Tradisi sarat budaya ini menandai dimulainya Kirab Panji ke-14 kecamatan dan 265 desa, yang diawali dari Kecamatan Watumalang demi memperkuat persatuan dan pelestarian budaya.
Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa prosesi ini bukan sekadar seremonial tahunan. Momen ini merupakan ruang refleksi sejarah sekaligus penguat komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam membangun Kabupaten Wonosobo.
"Serah terima Panji menjadi rangkaian pembuka Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang mengandung nilai sejarah, budaya, sekaligus kebersamaan kita sebagai masyarakat Wonosobo," ungkapnya.
Kirab ini memiliki makna mendalam sebagai ikhtiar menjaga nilai luhur warisan pendahulu untuk pijakan pembangunan. Empat simbol yang dikirab yakni Sang Saka Dwi Warna, Catragung Pangayom, Tombak Karawelang Katentreman, dan Panji Gegunungan Praja yang mencerminkan sinergi utuh antara pemerintah dan masyarakat.
Simbol-simbol tersebut membawa pesan kuat bahwa pembangunan daerah tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi harmonis dan semangat gotong royong antara pemerintah, DPRD, TNI, Polri, serta seluruh lapisan masyarakat demi kemajuan Wonosobo.
"Panji yang kita tampi hari ini adalah amanah bersama. Ia mengingatkan bahwa setiap langkah pembangunan harus selalu berpijak pada nilai persatuan, dijaga dengan semangat pengabdian, serta diarahkan untuk menghadirkan ketenteraman dan kemuliaan bagi masyarakat Wonosobo," jelasnya.
Memasuki usia ke-201, Bupati mengajak masyarakat optimis dan bersatu melanjutkan pembangunan daerah, selaras dengan tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi". Kerja bersama seluruh elemen ini menjadi fondasi penting untuk menjawab berbagai tantangan masa depan, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi.
Afif juga menekankan bahwa Kirab Panji ke 15 kecamatan dan 265 desa ini menegaskan sebuah pesan penting. Hari Jadi Kabupaten Wonosobo bukanlah milik pemerintah semata, melainkan pesta dan milik seluruh lapisan masyarakat Wonosobo.
"Melalui kirab ini, kita ingin menghadirkan semangat Hari Jadi hingga ke seluruh pelosok desa, agar tumbuh rasa memiliki, kebanggaan, dan kecintaan terhadap daerah kita tercinta," ujarnya.
Pihaknya berharap rangkaian Hari Jadi ini memberi manfaat nyata bagi pelestarian budaya, pemberdayaan UMKM, dan ekonomi kreatif demi kesejahteraan masyarakat. Meski gelar budaya di tiap kecamatan ditiadakan tahun ini karena menyesuaikan kondisi ekonomi, keputusan tersebut tidak mengurangi makna perayaan, melainkan mencerminkan semangat kesederhanaan, kebijaksanaan, dan solidaritas sosial.
"Dari situ kita belajar bahwa kebersamaan tidak selalu diwujudkan dalam kemeriahan, tetapi juga dalam sikap saling memahami dan menempatkan keadaan secara bijaksana," tuturnya.
Usai prosesi Pasrah Tampi, empat panji kehormatan langsung dikirab ke seluruh kecamatan dan desa untuk mempererat hubungan pemerintah dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong. Bupati menutup sambutannya dengan mengajak warga bersatu membangun daerah demi mewujudkan Wonosobo yang maju, aman, dan sejahtera.
Kepala Disparbud Wonosobo, Fahmi Hidayat, menyebut rangkaian Hari Jadi ke-201 ini mirip dengan tahun lalu. Berbagai tradisi budaya tetap digelar untuk menghormati sejarah, melestarikan budaya, dan memperkuat jati diri masyarakat.
“Rangkaian tersebut meliputi Pasrah Tampi Panji, Sarasehan Hari Jadi di masing-masing kecamatan, Prosesi Pengambilan Air dari Enam Mata Air, Ziarah ke Makam Para Pendiri Wonosobo, Bedhol Kedhaton, Tapa Bisu, Hastungkara, hingga Birat Sengkala sebagai rangkaian prosesi menjelang puncak peringatan Hari Jadi,” jelasnya.
Puncak Hari Jadi ke-201 Wonosobo akan digelar pada 24 Juli 2026 melalui Pisowanan Agung. Momentum sakral ini bakal dimeriahkan dengan Pagelaran Kesenian Utama, Ruwat Rambut Gimbal, dan Seni Kerakyatan sebagai ruang ekspresi budaya sekaligus daya tarik wisata.
Selain agenda utama, berbagai kegiatan pendukung seperti aksi sosial, olahraga, promosi UMKM, dan hiburan rakyat juga terus berlangsung. Seluruh rangkaian ini diharapkan mampu memperkuat kebersamaan sekaligus menggerakkan perekonomian lokal masyarakat. (Dimas/AN/Red).

.jpg)