Meriah, Ada Atraksi Debus hingga Mobil Hias di Pawai MTQ XXXI Semarang


 


 

Meriah, Ada Atraksi Debus hingga Mobil Hias di Pawai MTQ XXXI Semarang

Minggu, 13 September 2026

GROBOG JATENG, Semarang Suasana Kota Semarang, Jawa Tengah, mendadak riuh dan penuh warna. Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI resmi digelar dengan sangat meriah. Diikuti oleh perwakilan kafilah dari 38 provinsi di Indonesia, agenda besar ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan tumbuh menjadi simbol kerukunan yang kuat sekaligus mempererat semangat persatuan dan kebangkitan nasional.

Lautan manusia memadati rute sepanjang sekitar 2,5 kilometer. Kurang lebih 1.000 peserta berparade mulai dari Balai Kota Semarang hingga titik akhir di Kantor Gubernur Jawa Tengah. 

Kemeriahan semakin lengkap berkat kehadiran mobil-mobil hias yang kreatif serta unjuk penampian dari atraksi marching band yang memukau penonton di sepanjang jalan.

Setibanya di depan kompleks Gubernuran Jawa Tengah, atmosfer acara semakin memuncak. 
Rombongan kafilah secara bergantian mempertontonkan kebolehan dan kebudayaan khas daerah masing-masing di hadapan Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen. 

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah atraksi debus yang dibawakan secara memukau oleh kafilah dari Provinsi Banten.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengungkapkan bahwa pawai ini menjadi penanda resmi dimulainya seluruh rangkaian acara MTQ XXXI. Kompetisi religi ini nantinya akan tersebar dan berlangsung di 12 venue di Kota Semarang. 

Bagi Taj Yasin, berkumpulnya seluruh provinsi ini menjadi bukti nyata dari keberkahan Al-Qur’an yang memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai suku dan ras yang berbeda.

“Keberagaman kebudayaan dan adat ini bisa bersatu padu membangun Indonesia. Lewat MTQ Nasional, kita membumikan Al-Qur’an. Ini adalah buah keberkahan untuk kita bersama. Tidak melihat suku, ras, agama, semuanya berkumpul dan kita bersatu,” ujarnya, Sabtu (12/9/2026). Dikutip dari laman jatengprov.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa nilai-nilai persatuan ini sejalan dengan fondasi yang dipegang oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lewat slogan “Gumregut Nyawiji”. 

Slogan tersebut menjadi modal sosial bersama demi bergerak maju membangun dan menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat.“Kita tidak melihat siapa. Tidak ada yang ditinggal, kita bersama untuk maju,” imbuhnya.

Semangat persatuan dan kebangkitan yang membara itu terpancar nyata dari raut wajah kafilah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Meski wilayah mereka sempat diuji oleh bencana gempa bumi, para penghayat Al-Qur’an dari gugus kepulauan Flobamorata (Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata) ini menolak untuk menyerah pada keadaan. Mereka tetap datang dengan antusiasme tinggi demi menyukseskan MTQ XXXI.

Pengurus LPTQ NTT, Hamdan Saleh Batjo, menuturkan bahwa tekad untuk memasyarakatkan Al-Qur’an menjadi bahan bakar utama bagi 80 anggota kafilah NTT agar bisa berdiri tegak dan berkompetisi di ajang nasional ini.

“Sekalipun NTT mengalami bencana, tetapi semangat ukhuwah Islam dan memasyarakatkan Al-Qur’an di seluruh Indonesia dan Nusantara ini, menjadi satu hal yang membangkitkan semangat NTT dalam mengikuti kegiatan MTQ kali ini,” ucapnya.

Tak hanya membawa semangat juang, Hamdan juga melontarkan pujian mendalam atas kehangatan sambutan serta kualitas pelayanan yang diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah selama mereka berada di Kota Atlas.

“Pelayanannya luar biasa. Semalam kami diterima Pak Gubernur, Pak Wakil Gubernur, kali ini ada Pak Menteri. Kami senang dengan penerimaan Jawa Tengah sebagai tuan rumah,” paparnya.

Di sisi lain pembatas jalan, masyarakat Semarang turut larut dalam kegembiraan. Bella, salah seorang warga, mengaku sangat senang bisa menyaksikan langsung pawai budaya Islam ini. Selain menjadi hiburan alternatif di akhir pekan, momen ini ia manfaatkan sebagai sarana edukasi dini untuk mengenalkan nilai-nilai Al-Qur’an dan kebudayaan Islam kepada putrinya.

“Sekalian mengenalkan budaya Al-Qur’an. Kan ada selawat, tadi ada Al-Qur’an besar, anak saya tanya apa itu, lalu saya jelaskan,” ungkapnya.Rasa bangga yang serupa juga disuarakan oleh Dede Riyanto. 

Sebagai penduduk lokal, ia merasa terhormat kota kelahirannya dipercaya menjadi pusat perhatian umat Islam se-Indonesia melalui perhelatan akbar ini.

“Saya bangga sebagai warga Kota Semarang karena tahun ini Jawa Tengah menjadi tuan rumah. Ini kebanggaan kami untuk menerima tamu-tamu kafilah,” pungkas Dede. (*).