GROBOG JATENG, Grobogan— Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengendalikan perubahan iklim. Langkah nyata ini diwujudkan melalui monitoring kawasan Kawasan Perlindungan Hutan Alam Sekunder (HAS) di petak 38A, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Tlogomanik, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Pojok, baru-baru ini.
Kegiatan pemantauan lapangan ini dipimpin langsung oleh Administratur KPH Purwodadi bersama Wakil Administratur, Kepala Seksi Pembinaan Sumber Daya Hutan (PSDH), serta jajaran BKPH Pojok.
Tim turun langsung untuk memeriksa kondisi tegakan, mengidentifikasi pohon-pohon berdiameter besar, serta memetakan potensi ekologis kawasan dalam menyimpan karbon demi keseimbangan lingkungan.
Hutan Alam Sekunder yang dimonitor kali ini mencakup area seluas 4,0 hektare di petak 38A.
Secara keseluruhan, RPH Tlogomanik mengelola sekitar 65 hektare HAS yang tersebar di lima petak berbeda. Kawasan ini menjadi pilar krusial bagi KPH Purwodadi dalam mempertahankan tutupan vegetasi dan menjalankan fungsi perlindungan hutan.
Di lapangan, tim melakukan pengukuran sampel pohon, meliputi diameter dan tinggi vegetasi. Data primer ini nantinya diolah menggunakan persamaan alometrik guna memperkirakan biomassa tegakan serta kandungan karbon yang tersimpan di dalam hutan.
Administratur KPH Purwodadi, Doddy Juli Irawan, menegaskan bahwa pemantauan ini bukan sekadar mengecek kondisi fisik pohon, melainkan bagian dari strategi besar Perhutani untuk memahami dan memperkuat fungsi ekologis hutan secara menyeluruh.
“Perhutani memiliki perhatian yang besar terhadap keberadaan kawasan perlindungan, khususnya dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Hutan tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi mempunyai fungsi ekologis yang sangat penting, antara lain menyimpan karbon, menjaga tata air, mempertahankan keanekaragaman hayati, dan menghasilkan oksigen melalui proses fotosintesis,” ujar Doddy.
Ia menjelaskan bahwa ukuran pohon sangat menentukan kapasitas penyimpanan karbon. Semakin besar diameter dan tinggi sebuah pohon, semakin besar pula biomassa serta potensi karbon yang dapat diikatnya. Melalui proses fotosintesis, pohon menyerap karbon dioksida (
) dari atmosfer dan menyimpannya di batang, cabang, daun, hingga akar. Karbon tersebut juga tersimpan di lapisan serasah dan tanah.
“Melalui pengukuran sampling pohon ini, kami ingin memperoleh data yang lebih baik mengenai kondisi tegakan dan potensi karbon yang tersimpan di kawasan Hutan Alam Sekunder. Data tersebut penting sebagai bagian dari pengelolaan hutan berbasis data dan sebagai upaya untuk terus meningkatkan fungsi hutan sebagai penyerap dan penyimpan karbon,” tambah Doddy.
Berdasarkan pengamatan di petak 38A, kawasan ini masih dihuni oleh deretan pohon berukuran besar dan tinggi. Kekayaan vegetasi ini membuktikan bahwa hutan tersebut harus dipertahankan dan dikelola secara hati-hati agar fungsi perlindungannya tetap berjalan optimal.
Bagi Perhutani, fungsi ekologis hutan tidak berdiri sendiri. Oksigen yang dihasilkan merupakan satu kesatuan dengan kemampuan hutan dalam menjaga siklus air, menahan erosi, menyediakan habitat satwa, hingga menjaga kesuburan tanah. Monitoring berkala menjadi kunci untuk memantau perkembangan tegakan sekaligus mengantisipasi potensi gangguan.
Langkah pelestarian ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat lokal. Warga Desa Tlogomanik menyadari betul bahwa kelangsungan hidup mereka bergantung pada kondisi hutan yang sehat.
“Hutan ini harus kita jaga bersama. Kalau hutan..." kata Suparno, salah satu warga setempat, yang menegaskan pentingnya kolaborasi antara petugas dan masyarakat demi menjaga warisan hijau tersebut. (*).

.jpg)