GROBOG JATENG, Grobogan — Sebuah pemandangan mengejutkan sekaligus menggembirakan terjadi di petak 39 Kawasan Hutan Alam Sekunder (HAS) RPH Tlogomanik. Seekor ular sanca kembang sepanjang 2,5 meter berhasil ditemukan oleh petugas Perum Perhutani KPH Purwodadi yang sedang berpatroli, Kamis (8/10/2026). Temuan ini menjadi bukti nyata bahwa vegetasi hutan di kawasan tersebut masih berfungsi optimal sebagai habitat fauna liar.
Kepala BKPH Pojok, Bambang R., menegaskan bahwa hutan merupakan rumah bagi berbagai satwa yang wajib dilindungi bersama. Dalam patroli rutin tersebut, petugas juga langsung mengarahkan dan melepasliarkan ular sanca itu ke tempat yang lebih aman.
“Keberadaan ular sanca kembang yang kami jumpai saat patroli menjadi pengingat bahwa hutan bukan hanya tentang pepohonan, tetapi juga merupakan rumah bagi berbagai jenis satwa yang harus kita jaga bersama. Karena itu, Perhutani terus melaksanakan patroli dan pengawasan kawasan hutan untuk menjaga keamanan hutan sekaligus mendukung kelestarian habitat satwa liar,” ungkap Bambang.
Hal senada juga disampaikan oleh Yunani, petugas Perhutani yang terlibat langsung dalam patroli tersebut. Ia menceritakan bagaimana dirinya bersama tim mengutamakan keselamatan satwa sekaligus menjaga keamanan petugas di tengah lebatnya kawasan hutan.
“Ketika melaksanakan patroli, kami menjumpai ular sanca kembang dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Kami berupaya memastikan agar satwa tersebut dapat kembali ke tempat yang lebih aman tanpa mengganggu kelangsungan hidupnya. Pengalaman ini mengingatkan kami bahwa saat bertugas di hutan, keselamatan petugas harus tetap diperhatikan, sekaligus menjaga agar satwa liar tidak disakiti atau dibunuh tanpa alasan yang dapat dibenarkan,” jelas Yunani.
Selain ular sanca, kawasan hutan ini tercatat masih dihuni oleh berbagai satwa lindung lainnya seperti elang ular bido, kera ekor panjang, hingga kijang. Keberadaan satwa-satwa ini menandakan bahwa keseimbangan ekosistem dan rantai makanan di dalamnya masih terjaga dengan baik. Demi mempertahankan kelestarian lingkungan tersebut, pengawasan ketat terhadap perburuan liar serta perlindungan habitat harus terus ditingkatkan secara konsisten.
Subari selaku warga setempat turut menyerukan agar masyarakat menghentikan segala bentuk perburuan liar demi menjaga kelestarian satwa di kawasan hutan ini. Langkah ini dinilai sangat penting agar keanekaragaman hayati tetap terlindungi dan generasi mendatang masih dapat menyaksikan kekayaan alam tersebut secara langsung.
“Kami berharap hutan tetap lestari dan satwa-satwa yang hidup di dalamnya dapat berkembang biak dengan aman. Masyarakat harus ikut menjaga hutan, tidak merusak tempat hidup satwa, tidak memasang jerat, serta tidak melakukan perburuan liar. Kalau hutannya rusak dan satwanya hilang, generasi berikutnya tidak bisa lagi menikmati kekayaan alam yang kita miliki sekarang,” tutur Subari.
Sebagai langkah antisipasi, Perhutani turut mengimbau warga agar segera melapor kepada petugas apabila menemukan satwa liar, serta tidak mencoba menangkap atau membunuhnya secara sembarangan demi keselamatan bersama. (Ida/AN/Red).

.jpg)